Labuhan Haji: Menikmati senja ditemani Rinjani

Kamis sore (4 Desember 2014) saya terbang dari Jakarta menuju Lombok Praya menggunakan Singa terbang. Terbang dari rasa bosan dan penat yang mendera. Berbekal tiket keberangkatan tanpa tiket pulang. Yup, karena tak tahun sampai kapan akan berlibur di Pulau yang tersohor akan keindahan Gunung Rinjani dan pantainya ini. Awalnya memang tujuan saya adalah mendaki Rinjani, tapi desember bukan waktu yang tepat untuk menikmati indahnya rinjani. Hujan dengan intensitas cukup tinggi dan cuaca yang kurang bersahabat mengurungkan niat saya untuk mendaki.

Rencana berubah. Hari pertama di Pulau Lombok saya memutuskan untuk beristirahat saja di rumah teman. Sambil bertanya-tanya, masih memungkinkan kah untuk mendaki Rinjani? karena sungguh saya ingin sekali. Tapi teman saya menyarankan untuk tidak mendakinya saat itu.

“Musim hujan, sebaiknya ga usah mendaki. Lain kali saja datang ke sini khusus untuk mendaki.” kiranya itu nasehat teman saya.

Oke, saya nurut saja sama yang punya Rinjani. Karena memaksakan diri bukan pilihan yang baik ketika akan mendaki. 🙂

Siang menjelang, dan sore pun akhirnya menyapa dengan samar-samar, lantaran mendung. Teman yang sudah seperti saudara ini mengajak untuk pergi melihat Rinjani dari sebuah pelabuhan tak jauh dari rumahnya di Lombok Timur. Yah, minimal ditengok dulu lah Rinjaninya, siapa tau lain waktu berjodh menyapanya dari dekat.

Berangkatlah kami bertiga, saya, Kak Sinyo, dan anaknya Reyqa ke tempat yang dimaksud. Labuhan Haji namanya. Hanya sekitar 20 menit dari Kelayu menuju pelabuhan ini menggunakan sepeda motor. Deket banget lah pokoknya 🙂

Sore yang mendung di Labuhan Haji

Labuhan Haji awalnya merupakan pelabuhan yang terletak di Selong, Lombok Timur, yang digunakan untuk pemberangkatan orang-orang yang hendak menjalankan ibadah haji. Karena pada jaman dahulu kala, perjalanan untuk bisa sampai di Tanah Suci Mekkah ditempuh melalui jalur laut. Ibadah haji dilakukan berbulan-bulan lamanya, tidak seperti saat ini yang bisa dilakukan dalam waktu 40 hari saja untuk reguler dan 20 hari untuk ONH plus. Karena perjalanan ke Tanah Suci bisa ditempuh dengan pesawat yang hanya beberapa jam saja.

Panorama Rinjani dari Labuhan Haji

Balik lagi ke pelabuhan ini. Tempat ini mulai direnovasi tahun 2003-an dan dijadikan tempat wisata sekitar 2009-an. Hanya dengan membayar retribusi kurang dari 5 ribu rupiah per motor (ga inget secara pasti, soalnya dibayarin..hehe) saya sudah bisa menikmati pantai yang tenang, angin semilir yang sejuk, dan panorama yang menawan.

Melaut di Pelabuhan Labuhan Haji

Pengunjung banyak yang melewatkan senja di tempat ini. Ada yang melewatkannya dengan memancing atau sekedar duduk-duduk dipinggiran darmaga atau diatas sepeda motor sambil bercengkrama.  Tempatnya sepi, cocok banget buat nyari inspirasi. Siapa tau bisa beres nulis Tugas Akhir kalau disini..hehe

Aktivitas memancing di Labuhan Haji, Lombok Timur
image

Sayangnya mendung menghalangi senja sore itu. Padahal kalau cerah bagus nih lihat matahari tenggelam dibalik panorama Gunung Rinjani. Saya kurang beruntung sepertinya. Warna jingga pun hanya malu-malu muncul dibalik gumpalan awan mendung yang menaungi langit sore itu. Hari pertama di Pulau Lombok terlewati sudah. Besok ada kejutan apa lagi ya?

Biarkan saja semesta yang menuntun jalan saya untuk bermuara kearah mana. Karena membiarkannya mengalir begitu saja kadang menenangkan. Eh, tapi tetep ada satu aganda yang tak boleh saya lewatkan di sini. Satu misi rahasia 🙂

Mari Berkelana, Bahagia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + 1 =