Death by Chocolate Zone: Buniayu cave

Walking, jumping, crawling, and even rolling, everything is done in the Buniayu cave….

Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya “Beautiful cave: Buniayu Sukabumi”, Buniayu sangat mempesona, ornamen-ornamennya bagus dan beragam. Begitu pula jalur yang harus kami lewati. Lumayan melelahkan bagi saya, karena 4 jam waktu yang dibutuhkan untuk mengeksplorasi gua ini. Buniayu terbagi menjadi tiga zona, yaitu zona terang, zona transisi, dan zona gelap. Jalurnya pun terbagi menjadi beberapa bagian, mulai jalur biasa sampai jalur lumpur yang memerangkap.

image

Jalur di Buniayu notabene berair. Mungkin hal ini yang mengakibatkan hanya sedikit ditemukan stalagmite yang berpasangan dengan stalactite. Jalur berair ini beragam, mulai dari yang hanya semata kaki hingga hampir sepinggang.

Pada zona terang, jalur air hanya semata kaki. Jadilah aman untuk mengeluarkan kamera saya mengabadikan perjalanan dan suasana gua dalam bingkai kamera. Namun makin lama jalur makin tidak bersahabat. Memasuki zona transisi, saya harus super waspada karena air makin tinggi dan sesekali saya harus melewati jurang-jurang yang entah berapa dalamnya. Meliuk-liukan badan diantara celah bebatuan kapur.

Wah, mesti melindungi diri dan kamera kesayangan nih. Untuk melindungi kamera, saya masukan kamera kedalam pakaian saya. Agak sedikit repot, tapi tak apalah, karena saya senang bisa mengabadikan keindahan gua ini. Tiba-tiba seorang teman berteriak memberitahukan bahwa jalur semakin parah, air hingga sepinggang. Terpaksa saya titipkan kamera saya pada seorang teman yang membawa drybag. Kamera terlindungi.

image

Jalur semakin curam, kami harus waspada. Kami harus berkonsentrasi dan ikuti aturan dari sang guide, karena kami ingin selamat.

image

Memasuki zona gelap, tetiba sang guide memberitahu bahwa ia harus mengambil bahan bakar (karbit) untuk obornya di rombongan depan. Jadilah kami diharuskan menunggu di zona gelap. Sembari menunggu, kami memutuskan untuk mematikan semua headlamp kami, menikmati sunyi dan gelapnya di dalam gua. Kami menyebutnya kegelapan abadi.

Sunyi, senyap, dan sedikit agak takut, itu yang saya rasakan. Tapi damai, syahdu, dan suara-suara alam terdengar merdu. Suhu dingin menyentuh tubuh. Menyenangkan sekaligus membuat merinding itu yang saya rasakan. Dua perasaan yang berseberangan memang. Tak lama guide kami datang, cepat sekali pikir saya. Eksplorasi pun dilanjutkan.

image

                 (Salah satu jurang yang harus dilalui)

Saya sudah tidak bisa mengabadikan keindahan gua lagi setelah jalur yang makin tak bersahabat ini. Angkat tangan, ga berani nekat ngeluarin kamera, cuma punya satu soalnya..hehe

Jalur berikutnya yang harus kami hadapi adalah jalur lumpur. Jalur yang belakang kami sebut Death by chocolate. Kami diharuskan membuka Boot yang kami gunakan agar memudahkan perjalanan kami di jalur lumpur ini.

Awalnya saya pikir lumpur biasa, namun ternyata luar biasa, pake banget ya. *sorry jadi alay. Sampai betis lumpurnya. Kaki tak bisa digerakan, jadilah saya harus ditolong tiga orang untuk bisa naik ke permukaan yang lebih atas. Jalur licin menghadang, saya dan teman-teman hampir kahabisan energi. Membiarkan diri meluncur layaknya anak kecil yang bermain perosotan. Selicin apapun kami harus bergerak, berkonsentrasi, bersabar.
Sesekali badan ini oleng, karena saking licinnya. Ternyata perjuangan belum berakhir. Masih ada satu rintangan yang harus saya dan teman-teman hadapi. Menaiki tangga setinggi kurang lebih 3 meter untuk bisa keluar dari Gua. OMG, tobat saya. Pinggang sudah rontok. Tapi syukurlah saya dan teman-teman berhasil menaklukan Gua Buniayu.

Kami keluar dari mulut gua satu persatu dengan selamat, dengan pakaian bermandikan lumpur. Tapi senyuman kebahagiaan terukir jelas dibibir kami. Bahagia, bisa meikmati salah satu keindah di Negeri kami tercinta INDONESIA. Buniayu, mempesona sekaligus menyakitkan. Death by chocolate..bye bye

Bagaimana penampakan kami begitu keluar dari gua? ini dia rupanya..

image

Foto bersama, diambil oleh yusfi

Bagaimana kami membersihkan lumpur ini? Dimana kami menginap? selain gua apa saja yang bisa kami nikmati disana? nantikan di cerita berikutnya…

Bersambung disini..

Nunuz

3 comments

  1. Hi! Just happened to stumble upon your blog and how do I book a tour to go to Buniayu Cave? I am traveling alone in Java. Can i join a group already there or? Thanks in advance

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 1 =