Papandayan: Obrolan Warung Kopi ala Pendaki

Papandayan

 

Mengekspos keindahan Indonesia turut bertanggung jawab untuk membuatnya tetap terjaga….

Pagi di Pondok Salada. Betapa terkejutnya saya melihat kondisi yang ramai bak pasar disini. Banyak sekali tenda di sana-sini, rame. Saya bergumam “baru kali ini naik gunung rame kayak pasar”.

Saya baru menyadari keadaan di sekitar pada pagi hari, karena saya sampai di Pondok Salada sekitar jam 3 pagi. Perasaan tak nyaman mulai merasuki saya dan Mba Frita. Kami bergegas bebenah untuk membersihkan diri dan memasak. Kami memutuskan untuk pulang hari ini juga, schedule berubah: memasak, kemudian makan, beres-beres, bongkar tenda, dan angkut barang menuju Tegal Alun, hutan mati, dan pulang.

Pondok salada
Gunung apa pasar ya? Pondok salada di pagi hari…

Sambil memasak, menyeruput kopi dan teh, saya dan Mba Frita memulai obrolan random kami. Mulai dari enaknya kemana yah habis turun. Sampai mengomentari kondisi gunung yang kian ramai baru-baru ini.

Kira-kira obrolannya seperti ini:

saya: “kok, rame banget sih, banyak yang suka naek gunung yah sekarang?”

Mba Frita: “yah, gitu”

saya: “efek film kali ya, banyak loh yang hobi traveling ke gunung akhir-akhir ini”

obrolan tiba-tiba berubah…

Kami membicarakan tentang keinginan masing-masing menjelajahi Indonesia. Saya dan dia punya misi yang sama ternyata, melihat Indonesia lebih dekat. Tercuatlah keinginan saya untuk ke Wae Rebo yang ternyata sama dengannya.

obrolan berubah topik lagi…

Saya: “lu tau mba tulisan-tulisan traveling? disana ada foto-foto Wae rebo, bagus banget”

Mba Frita : “beberapa tau,..”

Saya: “ga ikutan nulis mba?”

Mba Frita : “belum, dan bla bla bla…(dia menjelaskan alasannya)”

Saya: “gue suka nulis mba, tapi gue pengen tulisan gue beda, karena basic gue biologi, jadi gue sih pengennya tulisan gue agak-agak biologi gitu..hehe.. ada misinya, misal ngejaga hewan biar ga punah dengan cara gue jelasin siklus hidupnya..gitu..hehe”

Mba Frita : “nah itu yang gue pengen juga, banyak tempat wisata rusak, gue tertarik dengan hewan, gue ga mau anak cucu gue cuma bisa lihat hewan dari gambar karena punah”

Obrolan makin serius nih, yang ujung-ujungnya next trip mau kemana?haha

Dari obrolan ngalor ngidul ala warung kopi, tapi yang ngomong pendaki (yah anggaplah begitu, karena obrolannya di gunung), haha. Saya merasa tersentil dengan argumen-argumen teman saya ini.

Pamer Indonesia alias ekspose keindahan Indonesia itu bagus, bikin orang tambah pengen mengenal Indonesia. Tapi, selipkan sedikit pesan untuk menjaga kelestariannya. Terutama jangan tinggalkan sampah yang merusak pemandangan. Mengekspos turut bertanggung jawab untuk menjaga dan mengajak orang lain menjaga. Saya akui itu tidak mudah.

Waktu menunjukan pukul 10.00 WIB, waktunya bebenah untuk meneruskan perjalanan. Dari hutan mati saya mencoba mengabadikan Pondok Salada yang di jamuri tenda-tenda.

Tenda di Pondok salada
Ramenyooo…

Pukul 13.30 WIB kami tiba di Tegal Alun, padang edelweiss yang memukau. Tak lama kami disana, berselang satu jam, kami meninggalkan Tegal Alun, menyongsong hutan mati dan kawah papandayan. Menjelang pukul 17.00 WIB kami tiba di pos pendaftaran pendakian.

Edelweiss di Tegal alun
Edelweiss
Tegal Alun, Papandayan
Tegal Alun, rame juga ternyata…
Hutan Mati Papandayan
Hello, Hutan mati…
Kawah Papandayan
Kawah papandayan

Alhamdulillah perjalanan kami berdua lancar, tak kurang satu apa pun.

Papandayan, 31 Januari-1 Februari 2014

See u on next journey

Nunuz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 1 =