Prau, teman baru dan cerita tak terduga

p1210189-copy

“Dimana lagi kan ku temui damai di Puncak Tertinggi….”

Seperti biasa, paling gatel kalau liat tanggal merah. Bisa di pastikan jauh-jauh hari sebelum tanggal tersebut, saya sibuk mencari open trip atau tanya-tanya teman apakah ada yang mau mbolang. Kebetulan salah satu teman sedang ada yang akan mendaki ke Prau. Oke fix ikut.

Perjalanan saya mulai dari Kota Rangkasbitung (Akhir Maret 2014), meggunakan Bus menuju Bekasi (dulu bekasi masih masuk Planet Bumi) 🙂 🙂 😉

“Kenapa setiap gue mau backpacking bareng temen-temen, ujung-ujungnya gue jalan sendiri dan ketemu di tempat tujuan” gerutu hati saya ketika dalam Bus menuju Bekasi. 

Di tengah perjalanan, macetnya ibu kota membuat saya harus memutuskan untuk berbelok arah ke Bekasi dan tidak jadi bertemu rombongan yang lain ditempat seharusnya kami bertemu. Sampai di terminal Bekasi semua tiket perjalanan ke Wonosobo habis, maklumlah long weekend. Mulai panik, saya tanya adakah tiket untuk ke Purwokerto. Akhirnya hanya satu tiket yang tersisa di jok paling belakang, itupun tujuan Purwokerto. Okelah tak apa, ada teman nanti yang bisa pergi bareng dari Purwokerto ke Wonosobo.

Saya tak bisa menikmati perjalanan karena kursi paling belakang sempit sekali, dan kaki saya yang panjang ini, tertekuk. Jam 8 pagi sampailah saya di Purwokerto. Bertemulah saya dengan salah satu personel pendakian yang baru hari itu saya kenal.

“Saya sudah sampai di terminal, kamu dimana?” suara saya via telepon

“Saya di dekat toilet, dekat bus yang mau ke Wonosobo” orang di sebrang telepon yang saya tak tahu rupanya.

Akhirnya ketemu juga..

“Hai, nunuz” sapa saya

“Irma” jawabnya

Singkaat cerita kami baru beranjak dari Purwokerto agak siang, dan jam 2 siang kami tiba di Wonosobo. Sedangkan teman-teman yang lain masih terjebak macet diperjalanan.

Pukul 8 malam kami bertujuh baru melakukan pendakian ke Prau, setelah sebelumnya melakukan pendaftaran di Pos. Seharusnya kami mendaki siang tadi, tapi terlambat karena teman-teman Jakarta harus menempuh waktu 20 jam untuk sampai Wonosobo.

Kami melakukan pendakian melalui jalur Dieng, jalanan lebih landai dengan jarak tempuh lebih lama. Bagi saya pendakian malam itu sangat melelahkan, karena gelap, dan harus super waspada. Empat jam lebih yang kami butuhkan untuk sampai di Camping ground.

“Woah, rame banget, diriin tenda dimana nih” kalimat itu terlontar dari mulut saya lantaran kami harus berkeliling selama 30 menit untuk menemukan tempat mendirikan tenda. Ramenya melebihi kondisi di Papandayan akhir Januari lalu.

Karena lelah, saya memutuskan langsung ambil tempat untuk tidur. Berharap bisa tidur nyenyak, tapi nyatanya tidur saya terusik. Suara orang berteriak-teriak, bernyanyi, memukul-mukul drum, suara musik dari hp terdengar keras sekali. Ini gila, mana ada Gunung Macem Pasar Kaget gini.

Pagi menjelang dengan matahari yang malu-malu, tepatnya sih sedang dikurung awan hitam. Prau hari itu mendung, tak ada Golden sunrise yang ada hanya Lautan awan mendung dan tenda yang berserakan. Saya meninggalkan tenda untuk sekedar mengisi memori dalam kamera saya.

Mendung menggantung, mengurung sang mentari
Mendung menggantung, mengurung sang mentari
Jalan-jalan pagi, menunggu mentari
Jalan-jalan pagi, menunggu mentari
Rame ya, warna-warni
Rame ya, warna-warni 😮
Gumpalan awan
Gumpalan awan
Menikmati ketinggian, di lembah terlihat Telaga warna Dieng
Menikmati ketinggian, di lembah terlihat Telaga warna Dieng
Landscape dieng
Landscape dieng
Kabut tebal, tak urung usai
Kabut tebal, tak urung usai
Solo Tree and Solo Traveler
Solo Tree and Solo Traveler
Bunga-bunga yang mendominasi gunung Prau
Bunga-bunga yang mendominasi gunung Prau
Bunga Daisy
Bunga Daisy

Prau sebenarnya indah, meski tanpa Golden sunrisenya, meskipun banyak tenda yang memenuhi setiap punggung dari bukit savananya. Saya seperti melihat bukit Teletubies disini. Saya bisa melihat Landscape dieng dari ketinggian. Saya bisa merasakan dinginnya Prau menggigit kulit-kulit saya. Saya bisa melihat bunga Daisy berwarna-warni menyembul dari dominasi rumput dan dedaunan yang hijau segar. Saya bisa melihat dan merasakan kabut tipis turun pelan-pelan mengaburkan pandangan, yang mengingatkan saya pada sepenggal kalimat di puisinya Gie.

Saya sadar, akhir-akhir ini banyak orang tertarik untuk mendaki gunung. Menikmati indahnya Indonesia dari ketinggian. Gunung bukan hal yang menakutkan lagi untuk jadi tempat berlibur. Tapi gunung tak akan menampakan dirinya, keindahannya, jika mereka yang datang tak menghormatinya.

Suara gaduh malam hari, onggokan sampah yang dibakar disana, membuat saya sadar, masih banyak orang yang datang tanpa etika. Kita harus sadar, perlu menjaganya untuk tetap memancarkan pesonanya. Dan… belajarlah menghormati waktu istirahat orang lain, karena Puncak sesungguhnya adalah Rumah.

See U

Nunuz

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + 9 =