Cahaya Nirwana Goa Pindul

on-blog-dsc_0013-copy

Jadi solo traveler ga ada salahnya, kalau bertemu teman seperti kalian…

Hari kedua di Kota Yogyakarta (7 Mei 2012) saya berkunjung ke daerah gunung kidul untuk menikmati indahnya Goa Pindul bersama teman baru saya Yoga, Bagus, dan Ridho yang saya temui ketika melihat perayaan Waisak di Borobudur. Saya memang tak punya rencana akan kemana untuk liburan kali ini. Ketika diajak mereka bertiga untuk ikut ke Goa Pindul, saya langsung mau. Ga pake mikir tuh Goa bentuknya kayak gimana..

Janji bertemu jam 10 pagi di Mall Malioboro. Berbekal rute perjalanan dari teman (Naik mobil Kol dari Kaliurang ke KOPMA UGM/mirota, kemudian menyebrang ke jalur 4, naik bus jurusan Malioboro) dengan sedikit deg-degan saya mengikuti petunjuk tersebut, tibalah saya di Mall dengan selamat. Saya merasakan susana ramah disini. Tak ada rasa takut ketika menanyakan jalan, abang kondektur yang baik hati yang tentunya jarang saya temui di tempat saya tinggal saat ini.

Berbekal GPS dan informasi dari teman Ridho mengenai Goa Pindul tibalah kami di Desa Wisata Bringoharjo dengan mengendari motor sewaan seharga 60 ribu perhari, dengan jaminan KTM atau KTP. Saya pikir, jadi Solo traveler ga ada salahnya, kalau bisa bertemu orang-orang baik seperti mereka.

Ngambang
Ngambang

Berdasarkan informasi dari Mbah Google, Goa pindul memiliki panjang sekitar 350 m dengan lebar hingga 5 m. Jarak permukaan air dengan atap gua 4 m dengan kedalaman air 5-12 m. Memiliki 3 zona yaitu zona terang, zona remang, dan zona gelap.

Untuk melakukan aktifitas di Goa Pindul kami dikenai biaya 75 ribu per orangnya. Untuk mengabadikan moment kami di Pindul kami harus membayar 150ribu untuk dokumentasi. Karena saya tak cukup berani membawa kamera saya selama tubing di Goa Pindul. Takut nyemplung.

Hari itu kami hanya berempat saja, dan berasa banget private cave.. 😉 Kami melakukan Cave tubing disini, menggunakan Ban palampung menyusuri tiga zona goa. Didalamnya terdapat stalagmit dan stalagtit, baik yang masih hidup maupun mati. Melewati zona gelap, saya merasakan kedamaian, merasakan sunyi yang melegakan. Di goa ini ada sebuah stalagmit yang menurut mitos kalau laki-laki yang memegangnya akan menambah ke jantanannya. Geli juga medengarnya, karena saya perempuan sendiri dalam rombongan. Saya pikir mitos cukup sampai disitu, ternyata ada juga sebuah stalagtit yang masih hidup yang katanya, kalau perempuan terkena tetesan air itu bakalan awet muda. Langsung lah sang guide, melewatkan Ban pelampung saya tepat dibawah air itu. Awet muda dong saya..haha…

Biar Jantan Katanya.
Biar Jantan Katanya.
Ornamen Goa
Ornamen Goa
Biar Awet Muda
Biar Awet Muda

Di ujung goa, ada lubang besar diatapnya yang memancarkan cahaya matahari. Terlihat keren, seperti cahaya nirwana. Kami mencoba meloncat dari atas tebing-tebing goa. Saya yang paling cemen karen takut tenggelam, ga bisa renang. Tapi akhirnya berani juga loncat sekali.

Bersiap terjun
Bersiap terjun

Usai dari pindul kami diangkut menggunakan mobil kol ke tempat kami akan rafting. Kami melewati  perkebunan pohon kayu putih dan sebuah tempat penyulingan. Udara sejuk khas pegunungan, serta rafting di sungai. Ini hanya setitik keindahan dari Yogyakarta. Masih ada tempat-tempat yang indah dan unik lainnya. Malam menjelang dan hari ini kami tutup dengan makan mpek-mpek di Taman Siswa.. Rasanya enak loh..


Terimakasih untuk kalian…

See U

Nunuz

All photo by Goa Pindul Photographer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + 2 =