Gupak Manjangan dan Merah Putih di 3265 mdpl

Biarkan waktu membeku, biar Lawu menyihirku dengan keangungan-Mu…

Saya setengah berlari ketika melihat luasnya hamparan sabana Gupak Manjangan.

“Wow, indah banget” saya berseru

Disana sudah terdapat teman-teman saya yang lain sedang asik berfoto. Ya, seperti biasa, saya adalah rombongan penyapu, atau tepatnya tersapu. Berjalan lambat layaknya keong, tapi akhirnya sampai juga.

Empat puluh menit terasa setahun bagi saya.*lebay 🙁

Jalur pos 5 ke sabana ini sebenarnya lebih manusiawi dibandingkan jalur sebelumnya, tapi tetap saja saya jadi yang terakhir. Faktor U sepertinya. haha 🙂

P1370418 copy
Kabut dan mereka yang ingin mengabadikan diri

Balik lagi ke sabana yang menghipnotis. Berkali-kali saya mengambil foto bahkan minta teman-teman yang lain memfoto diri saya. Saya tak mau hanya meninggalkan jejak langkah ditempat seindah ini.

“Ini yang membuat saya jatuh cinta lagi dan lagi pada ketinggian. Meski letih, sakit, dan terkadang rasa putus asa melintas, namun imbalan yang ia beri selalu impas”

Kabut pun turun perlahan kemudian sirna, tersapu angin yang membawanya pergi menjauh dari lintasan kami.

Saya ingat, sepanjang perjalanan kami (saya, Mba Ega, dan Bang Yuher) membicarakan alasan mengapa mendaki. Saya sempat bingung menjawab alasan yang tepat kala itu, karena saya sempat bilang saya bukan anak gunung.

Kali ini saya ingin berterus terang mengapa saya mendaki.

“Gunung mengajarkan saya arti berjuang, mengajarkan saya sabar, mengajarkan saya syukur dan toleransi. Gunung memberi saya pertemanan dan persaudaraan, gunung juga yang mengajarkan saya tidak menyerah untuk setiap mimpi-mimpi saya. Dan satu lagi, gunung adalah penawar dari rasa putus asa dan kecewa. Tuhan menempatkan tempat terindah bukan dengan jalan yang mudah dan tanpa resiko, dan Keindahan Gunung, membuat sirna semua keraguan, berganti keyakinan.”

Ayo kita jalan lagi…

Dari kejauhan saya melihat dua orang yang tak pernah terpisahkan. Mas Wisnu dan Mas Oki sedang berpose disebuah area layaknya lapangan golf.

“Mereka nemu aja loh spot yang kece” pikir saya

P1370429 copy
Lapangan golf-nya Duo muser-muser

Saya, Tami, Mba Karisha tak ingin kalah eksis dengan duo muser-muser ini. Kamipun bergaya dengan riang hati dan meminta Bang Yuher mengambil foto kami. Saya mecoba pose ala-ala Mba Medinakamil, salah satu pose yoga sih sebenarnya. 🙂

20150601_100554 copy
Pose ala-ala

“Itu harusnya sumber air, kalau ga kering” Bang Yuher memberi penjelasan

P1370431 copy
Mba Ega yang tak pernah lepas dari topinya
P1370450 copy
Masih Sabana yang indah

Sepertinya sang penggagas dan sweeper pendakian ini telah mencari refrensi yang super lengkap tentang Gunung Lawu ini, karena sesampainya kami di Pasar Dieng sembilan puluh menit kemudian, ia pula yang mengingatkan untuk tak berlama-lama ditempat ini.

“Yuk buruan, takut diajak transaksi” serunya

P1370457 copy
Orang lain ngeri, Mas Oki malah pose di Pasar ini

Niat mau mengabadikan undakan-undakan batu yang menggelitik nalar saya sirna sudah. Katanya tadi itu Pasar Setan yang konon kalau ada keriuhan dan suara menyapa kalian, kalian harus melempar uang koin dan mengambil daun sebagai tanda transaksi jual beli. Syukur Alhamdulillah kami tak mengalaminya. Thanks God,..

Sebenarnya saya penasaran dengan sisa bebatuan yang rapih di pasar itu, saya berpikir kalau dahulu kala ada kehidupan disana. Ditambah lagi tak jauh dari sana ada bangunan sejenis tempat beribadah bernama Hargo Dalem. Saya tersadar, Lawu mirip dengan Gunung Salak di Bogor, sama-sama ada Pura di kaki gunungnya.

Duapuluh menit kemudian kami tiba di warung tertinggi di Pulau Jawa, warungnya Mbok Yem yang paling tersohor. Kami istirahat sebentar, menanggalkan tas kami, kemudian bersiap untuk menjejakan kaki di 3265mdpl.

P1370460 copy
Warung Mbok Yem terlihat dekat, padahal jauh…
P1370477 copy
Oke sip, Warung Mbok Yem

Jalan menanjak, dan sedikit berbatu mengiringi langkah kami ke Puncak Hargo Dumilah. Melihat tugu Gunung Lawu yang semakin mendekat membuat saya ingin berlari. Tapi apa daya, langkah kaki sudah mulai kehilangan kesimbangannya. Mba Ega sibuk menulis ucapan entah apa dibeberapa lembar kertas untuk menemaninya berfoto. Jalan selama 30 menit hanya untuk dipuncak 10 menit rasanya cukup membut senyum melebar dan hati berdebar.

“Selamat nunuz, ini bonus 3265mdpl” dalam hati saya

Tak lupa saya berfoto dan membuat video ucapan selamat wisuda untuk Puji dan Allia, teman saya yang sudah resmi menyandang gelar M.Si di belakang namanya.

P1370512 copy
Me, Photo by Jojo

Dengan tekad yang besar, kami berdua belas bersama melantunkan “Hiduplah Indonesia Raya” dengan merah putih berkibar indah.

“Yes, this is Indonesia and I proud to be Indonesian”

P1370497 copy
Hiduplah Indonesia Raya
P1370522 copy
Kembali turun ke Warung Mbok Yem

Kami kembali ke warung Mbok Yem untuk mencharger energi. Dan ternyata kami bertemu kembali dengan satu-satunya rombongan yang sama-sama bermalam di Pos 5 tadi. Mereka dari UNS ternyata, mahasiswa baik hati yang mau menjadi fotografer kami, mengabadikan momen kebersamaan ini.

P1370564 copy
Team 12

Pukul 14.30 WIB kami meninggalkan warung Mbok Yem, untuk melanjutkan tujuan kami sesungguhnya, Rumah. Jalur Cemoro Sewu yang konon merupakan jalur terpendek yang kami pilih. Pemandangan yang tersaji tak kalah cantik. Jalanan menurun terus tanpa bonus ternyata membuat kaki semakin sering terkilir, ditambah lagi undakan tangga yang sudah ditata rapih membuat langkah kami harus lebar.

P1370590 copy
Dapet sedikit bonus di jalur Cemoro Sewu

“Oh Tuhan, ini sih sama aja, kaki tremor nih” ucap hati saya sambil ngelus dada, setelah kaki semakin berat melangkah, dan dengkul sakitnya makin bertambah.

P1370606 copy
Jalur dan pemandangan tebing di Jalur Cemoro Sewu

Sempat beberapa kali saya mendengar bunyi lonceng dari beberapa rombongan pendaki. dan tenyata menurut Bang Yuher, kalau mendaki di daerah Jawa Tengan dan Timur biasanya bawa lonceng untuk penanda.

Pukul 18.00 WIB, kami tiba di Pos 1. Pundak kiri saya yang sebelumnya memang pernah cidera, kambuh, sampai tak bisa memalingkan wajah ke arah kiri. Bang Dandy kelelahan, dan Iwan kakinya merah banget, ngeri saya liatnya.

Akhirnya kami memutuskan beristirahan selama satu jam disini. Jalur Cemoro Sewu tergolong nyaman, meski harus menanjak, di setiap Pos ada warung yang berjualan dan menyediakan tempat beristirahat. Pantas saja daritadi saya melihat orang-orang mendaki hanya berbekal tas kecil. Woah, kalau itu yang kalian lakukan saat mendaki via Candi Cheto, dijamin kehausan sama kelaperan, ga ada warung.

Jalur Candi Cheto memang konon jalur tersulit dari Gunung Lawu, jadi jika ingin kesana siapkan fisik dan mental kalian, peralatan mendaki kalian, bekal kalian, mendakilah dimusim kemarau, dan tolong sampahnya dibawa turun dan tidak membuat kegaduhan di Gunung. Jalur ini bersih dari sampah loh, jadi tolong dijaga keasriannya. Agar kelak jika ada usia untuk kembali kesana, keindahannya tak pernah surut dipandang mata.

“Semesta memiliki bahasa dan rasa tersendiri bagi mereka yang ingin berinteraksi dengannya. Andai saja kita bisa menundukan hati dan memahami, sungguh ia akan berbaik hati.”

Pukul 20.00 WIB kami tiba di Base camp Cemoro Sewu dan di sambut oleh Pak Larto yang siap mengantar kami ke Stasiun Solo Jebres. Dan saya baru tahu, kalau pendakian kami tak tercatat, karena saat memasuki Candi, loket masuknya belum buka dan tak ada Base camp disana. Tolong yang terakhir ini jangan ditiru. Mungkin kalau tahu dari awal, saya akan cemas setengah mati, kerena terbiasa mengikuti prosedur.

Berikut catatan waktu pendakian kami…

Hargo Dumilah:
Pos 5- Mbok Yem —> 9.20-12.00
Mbok Yem-puncak Lawu—> 12.20-12.50
Turun via Cemoro Sewu:
Puncak-mbok yem —> 13.05-13.39
mbok yem-pos 5—> 14.40-15.17
pos 5-pos 4 —>15.17-15.38
pos 4-pos 3 —> 15.38-16.13
pos 3- pos 2 —> 16.15-16.50
pos 2- pos 1 —> 16.50-18.07
pos 1- Base camp Cemoro Sewu —> 19.07-20.00

Cheers,

Nz

Note: Terimakasih untuk kalian bersebelas, gunung berikutnya masih boleh ikut kah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + 9 =