Curug Seribu: Alternatif Escape Saat Galau

“Nuz sabtu ada acara ga?” Begitu kiranya pesan singkat yang saya terima

“Ga, knp?” jawab saya

“Jalan yuk, ke tempat yang di puncak itu”

“Apaan? Telaga warna?”

“Iya, lagi bosen gue”

“Ogah ah, males capek, macet, dan gue masih sakit kaki turun dari Lawu” begitulah kiranya percakapan kami.

“Ayolah, terserah deh kemana yang penting jalan” jawab teman saya

Karena ga tega liat teman yang lagi galau tambah galau, akhirnya saya tawarkan untuk pergi ke tempat yang saya kira lebih dekat, dan tidak melelahkan.

Hari itu tiba, sabtu di minggu pertama bulan Juni 2015.

Janjian pukul 9, datang pukul 9.30. Telat again.. Kebisaan buruk lu nih dit, ngareettt… hufh

Kami memutuskan untuk ngadem ke Curug Seribu yang cukup tersohor. Berbekal rute dari teman, sampailah kami di Wisata Salak Endah, satu setengah jam kemudian ditempuh dari Dramaga.

Ternyata di kawasan Wisata Salak Endah tak hanya ada Curug Seribu, tapi juga Curug Cigamea, pemandin air panas, pemancingan ikan, dan beberapa villa. Untuk masuk kawasan Wisata Salak Endah kami dikenakan biaya 20 ribu rupiah/motor.

Sekitar 10 menit dari gerbang kawasan Wisata Salak Endah kami tiba di kawasan Curug Seribu, belok ke arah kanan mengikuti rambu-rambu yang tersedia. Kami memarkir motor dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

“Buset dah, ni kaki gue masih pegel parah diajak trekking lagi” keluh saya

“Mending ke Telaga warna kan?” jawab teman saya

“Kaga ah, bosen” sanggah saya

Saya berjalan dengan lambat. Teman saya tampaknya lapar, dia mengambil camilan didalam tas, menawarkan camilannya pada saya, tapi saya tak lapar. Akhirnya dia nyemil sendiri. 🙂

“Gue lapar kakaknya”

“Iya, makan aja, gue sih kenyang”

Curug Seribu dalam otak saya adalah curug yang bisa ditempuh tanpa trekking layaknya Curug Luhur yang  sebelumnya pernah saya kunjungi. Kenyataanya, trekking yang lumayan panjang dan cukup membuat sakit dengkul, urat betis mengencang, dan pinggang rontok. Oh ya, sebelum memasuki curug kita akan dikenakan biaya 10 ribu rupiah/orang, lebih murah kan dibanding Curug Luhur.

on blog P1370773 copy
Jalur yang terjal dan licin
on blog P1370816 copy
Udaranya lembap karena hutannya rimbun

Setelah trekking melewati jalanan menurun yang licin selama satu jam, tibalah kami di depan Curug Luhur. Debit air cukup tinggi hari itu, jadi curugnya bagus. Disekitar curug terdapat aliran- aliran air yang mengalir di tebing yang hijau, indah banget. Sesuai namanya, Curug seribu artinya air terjun seribu, ada banyak air terjun di tempat ini dengan berbagai ukuran. Meskipun jumlahnya tidak seribu sih.

Sayangnya kita tak bisa mendekat ke area yang sangat dekat dengan curug ini, ada batas aman yang mereka berlakukan. Jadi bagi mereka yang mau mandi dan berendam, tak bisa merasakan hempasan air tepat dibawah curug. Ada area yang memang khusus untuk berendam, mandi dan bermain air.

Dari jarak beberapa ratus meter dari Curug, saya mengagumi keindahannya, mengabadikan lukisan yang Tuhan beri di Alam Indonesia ini. Naik ke atas batu besar, dan duduk cukup lama diatasnya. Adem, segar, seperti oksigen masuk dengan leluasanya ke paru-paru dan menjalar kesetiap celah di tubuh saya.

on blog P1370827 copy
Moment
on blog P1370831 copy
Curug Seribu tertinggi
on blog ADT_3782 copy
Saya dibatas aman Photo by Adit
on blog P1370861 copy
Foto terus, siapa tahu galaunya ilang
on blog P1370851 copy
Jalan menuju pemandian
on blog P1370825 copy
Pemandian dengan view keren

Kami duduk diatas batu besar yang sama, bercerita banyak hal. Tepatnya sih, mendengarkan mas-mas yang lagi galau ini curhat. Sepanjang dia curhat, saya cuma bisa tertawa dan ber Hemph ria.

“Memang  hidup kadang tak seperti apa yang kita inginkan. Jangan pernah memaksa orang lain berubah seperti apa yang kita inginkan. Karena, cinta datang bukan jadi alasan untuk memaksakan kehendak.”

“Sesuatu yang tak mungkin akan jadi mungkin jika disertai keyakinan dan keinginan untuk membuatnya mungkin. Jika tak yakin, sia-sialah semua…”

Obrolan ngalor-ngidul, harus diakhir ketika jam menunjukan pukul 1 siang.

“Balik yuk, belom dzuhur”

“Yuk”

Melewati jalur yang tadinya menurun, kali ini menanjak, harusnya membuat kita sadar. Hidup itu berpasangan, tak usah risau, tak usah gelisah, jalanilah semua yang Tuhan beri sebaik-baiknya. Selesaikan yang telah dimulai, dengan sebaik-baiknya, dan melangkahlah kemudian pada impian yang lain.

Jam 2 siang kami meninggalkan Curug Seribu yang jadi saksi bisu dua anak manusia yang belajar menjadi dewasa.

Tips:

> Datanglah pagi hari

> Gunakan pakaian yang nyaman, usahakan tidak ketat, agar mempermudah pergerakan

> Gunakan alas kaki untuk kegiatan outdoor

Cheers,

Nunuz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 2 =