Wisata Budaya Suku Baduy Yang Tak Pernah Padam

Suku Baduy adalah masyarakat tradisional yang mendiami sebuah wilayah di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Tepatnya, mereka mendiami sebuah desa bernama Kanekes. Budaya yang masih terjaga, perkampungan yang tradisional, dan akses yang mudah menyebabkan perkampungan Baduy menjadi tempat wisata budaya yang ramai dikunjungi wisatawan. Hampir sepanjang tahun terutama di hari libur, kampung ini ramai pengunjung.

Suku Baduy sendiri terbagi menjadi dua komunitas yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam mendiami tiga perkampungan saja yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Sedangkan Baduy Luar mendiami sekitar 50 perkampungan. Baduy Dalam dan Baduy Luar sebenarnya sama saja secara tradisi, hanya pakaian mereka yang berbeda, dan kelonggaran dalam menggunakan teknologi dan transportasi. Baduy Luar berpakaian layaknya masyarakat di Luar Baduy sedangkan Baduy Dalam menggunakan pakaian putih hitam dengan ikat kepala putih tanpa menggunakan alas kaki. Pakaiannya pun mereka buat sendiri. Baduy Luar sudah terbuka dengan akses teknologi seperti menggunakan handphone, tapi tak demikian dengan Baduy Dalam.

Pintu masuk perkampungan Baduy adalah Ciboleger. Ciboleger adalah desa perbatasan dengan perkampungan Baduy. Disini terdapat terminal kecil dan dapat digunakan untuk memarkir kendaraan. Ditempat ini juga kita akan bertemu dengan beberapa orang yang menawarkan jasanya mengantar kita berwisata di Kampung Baduy. Tak sedikit juga diantara mereka adalah orang Baduy sendiri.

Setelah berjalan kurang lebih 500 meter kita akan mendapati gerbang selamat datang. Sebelum memasuki kawasan perkampungan Baduy, alangkah baiknya jika kita berbelok ke arah kiri sekitar 100 meter dari gerbang selamat datang hanya untuk sekedar permisi pada Kepala desa atau aparat desa setempat. Layaknya memasuki rumah orang, ketuk pintu dan ucapkan salamlah terlebih dahulu.

Kampung pertama yang akan kita temui ketika memasuki kawasan Baduy adalah Kadu Ketug, dari tempat inilah petualangan budaya Baduy di mulai. Biasanya wisatawan ingin mengunjungi perkampungan Baduy Dalam di Cibeo, yang jaraknya kurang lebih 12 km dari kampung ini. Untuk mencapainya kita akan melalui jalanan pebukitan dengan berjalan kaki diatas tanah merah.

Suku Baduy memiliki filosofi hidup yang menyatu dengan alam. Mereka memiliki aturan untuk tidak mengubah kontur tanah dan membiarkannya apa adanya. Rumah-rumah mereka dibangun menyusun seperti undakan pada lahan yang miring. Mereka juga menempatkan leuit atau lumbung padi pada area yang terpisah dari pemukiman agar bisa terselamatkan ketika ada kebakaran. Mereka menanam padi setiap tahun dan menyimpannya dalam leuit ini. Mereka punya cukup stok padi didalamnya, tak heran mereka mandiri untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Kampung Cipaler
Kampung Cipaler

Saat melintasi perkampungan demi perkampungan, kita akan disuguhkan pemandangan huma atau ladang padi di pebukitan, rumah-rumah yang tersusun rapih, aliran sungai deras dan bersih, serta aktivitas keseharian Suku Baduy. Saat memasuki perkampungan Baduy, waktu terasa melambat, dan kita seolah terjebak dalam masa silam. Masa dimana tanpa teknologi, namun itu lebih dari cukup untuk bertahan di Bumi nan asri.

Padi Baduy
Padi Baduy, selepas panen

Ketika menyebrangi sungai, kita akan disajikan sebuah arsitektur jembatan ala Suku Baduy, yaitu jembatan Bambu. Tak usah khawatir karena jembatan ini cukup kuat dan setiap beberapa tahun sekali akan diganti.

Jembatan Bambu di Kampung Gajeboh
Jembatan Bambu di Kampung Gajeboh

Anak-anak Suku Baduy cukup menikmati masa kanak-kanaknya. Mereka bermain bersama,baik itu di halaman rumah maupun di ladang huma.

Anak-anak bermain selepas hujan di Kampung Marengo
Anak-anak bermain selepas hujan di Kampung Marengo

Kita juga dapat melihat wanita-wanita Baduy menenun untuk memenuhi kebutuhan pakaian mereka, bahkan beberapa dari mereka menjual tenun-tenun cantik hasil karyanya kepada wisatawan. Jika kita beruntung, kita juga dapat melihat bagaimana Gula Aren yang terkenal dari Baduy dibuat, bahkan bisa mencicipinya ketikan masih menjadi lelehan. Orang Baduy menyebutnya masih ngora (masih muda). Saya pernah mencobanya dan itu enak.

Seorang Ambu yang sedang menenun kain baduy
Menenun Kain Baduy

Perjalanan memang panjang untuk memasuki kampung Cibeo dan menginap disana. Namun sepertinya semua terbayar lunas. Waktu tempuh 6 sampai 7 jam terbayar sudah.

Apabila kita memilih jalur pulang yang berlainan, mintalah di lewatkan pada Jembatan Akar yang unik ini. Jembatan yang memang terbuat dari akar-akar pepohonan yang saling mengikat dan melilit, serta menjadi salah satu pesona wisata di Baduy.

Jembatan akar di Kampung Batara
Jembatan akar di Kampung Batara

Ketika memasuki area Baduy Dalam, semua teknologi mari kita tinggalkan. Hiduplah seperti mereka, dan nikmati sensasinya. Hormati aturan yang ada. Indonesia Kaya

Cheers,

Nunuz

Di posting juga disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + 1 =