Kraton Surakarta-Terjebak Suasana Jawa Tempo Dulu

on-blog-p1110512-copy

Mungkin saya yang berlebihan, atau memang tempat ini “dingin”, entahlah, yang jelas saya terjebak didalamnya…

Destinasi selanjutnya setelah perut kenyang dengan rawon penjara adalah Kraton Surakarta. Kraton Surakarta atau Kraton Surakarta Hadiningrat ialah Istana Kasunanan Surakarta yang terletak di Kota Solo. Bagian keraton yang bisa dikunjungi adalah museum yang menyimpan berbagai koleksi milik keraton, mulai keris, gamelan, perabot rumah tangga, sampai kereta kencana yang digunakan sebagai alat transportasi jaman dulu.

Untuk memasuki kawasan ini kita akan dikenai biaya 10.000 rupiah/orang dan membayar tiket kamera/video sebesar 3.500 rupiah/kamera.

Saat memasuki kawasan ini, hawa sejuk menghampiri saya. Saya berkeliling melihat-lihat bangunan dan ruang-ruangan yang ada di museum ini. Nice place dan berasa banget lagi di Jawa-nya. Hawanya sejuk cenderung dingin. Mungkin karena bangunan dengan tempo dulu atapnya tinggi-tingi kali ya, dan lantainya ubin bukan kramik.

Replika Bangunan-Bangunan di Kraton
Replika Bangunan-Bangunan di Kraton
Diorama Kesultanan
Diorama Kesultanan
Salah satu ruang di Museum Kraton Surakarta
Salah satu ruang di Museum Kraton Surakarta

Karena sunyi, sepi dan banyak pohon rindang, saya menjadi agak-agak parno alias paranoid disini. Sepi banget kawan, hanya beberapa pengunjung yang saya temui di tempat ini. Sambil memasuki ruangan demi ruangan dan melihat semua yang ada, sesekali saya bertanya pada Rezha perihal Solo dan tempat ini. Katanya pasir yang ada di Kraton ini diambil langsung dari pantai selatan. Nah loh, langsung kebayang Nyi Roro Kidul deh. Aduh otak saya mesti dibersihkan dari hal-hal mistis macam itu.

Yang katanya pasirnya dari pantai selatang
Yang katanya pasirnya dari pantai selatan
Biasanya digunakan sebagai mushola oleh pengunjung
Biasa digunakan sebagai mushola oleh pengunjung

Saya duduk-duduk sebentar sembari melihat sekitar, meluruskan kaki yang pegal sembari menikmati bangunan tua bergaya klasik Jawa ini. Hilang pegal saya, kami kemudian berjalan menuju satu ruangan yang ternyata menyimpan kereta kencana. Awalnya kami hanya mengintip ruangan dari luar.

Tiba-tiba bapak penunggu kereta kencana tersebut menawarkan saya untuk berfoto. Bapaknya sedikit gagu atau memang saya tak paham dengan bahasa yang ia gunakan, tapi untunglah teman saya mengerti maksudnya. Saya diminta duduk di depan kereta kencana, diberi kalung. Kalungnya wangi loh, wangi bunga-bung gitu. Posisi saya duduk dia atur bak puteri kraton. Kaki merapat, badan tegak menyamping. Bapak tersebut kemudian mengambil kamera dari tangan Rezha dan menyuruhnya ikut berfoto. Rezha diberi kalungan juga dan blankon. Kami duduk bak raja dan ratu dengan senyum dan wajah yang bingung.

Nah loh.. Saya dibuatnya lebih bingung lagi, karena sebelum sesi pemotretan, bapak yang menunggu kereta melakukan ritual seperti meminta ijin dan menyembah sesuatu. Ia bersimpuh dan berdoa terlebih dahulu. Aduh Misterius banget pikir saya.  Merinding disko dah. Tapi saya anggap itu adalah penghormatan kepada leluhur sang pemilik kreta kencana, agar kami boleh berfoto di kretanya. Ya memang kita hendaknya meminta ijin jika ingin menggunakan barang orang lain.

Kereta Kencana
Kereta Kencana

Masih dengan wajah syok, bingung, dan sedikit was-was, (Sepertinya saya aja sih yang was-was), kami keluar dari ruangan itu setelah berterimakasih dan memberi tips pada bapak penjaga kereta kencana tersebut.

Ah baiklah, lupakan saja, jangan terlalu parno. Kami keluar dari area museum dan memilih duduk-duduk di depannya. Kami berbincang-bincang ngalor-ngidul karena, dan Rezha malah cerita hal horor. Argh

Sore itu tibalah saatnya saya harus kembali ke Jogja untuk melanjutkan perjalanan saya berikutnya. Masih tersisa satu hari waktu liburan saya. Thank you Rezha sudah mau direpotkan dan mengajak saya berkeliling Solo

FYI, tahun berikutnya saya berkunjung ke tempat ini lagi bersama kawan saya Allia, tak ada bapak penunggu kereta kencananya, tak ada wangi-wangian dengan asap mengepul dalam wadah tanah liat di ruangan tersebut. Padahal saya udah jiper ga mau masuk tuh ruangan itu. haha dasar paranoid. Jangan ditiru.

Lanjut ah jalan-jalannya. Besok kita ke Magelang.

Cheers,

Nunuz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 5 =