Ketika Impian Mengalahkan Segalanya

Setelah bertemu dengannya hidupku banyak berubah. Aku bertemu Nandi pertama kali, saat kami melakukan perjalanan bersama ke Baluran, kemudian berlanjut melakukan perjalanan ke Buniayu, dan terakhir kami memutuskan untuk pergi mengeksplor Sulawesi.

Aku memang jatuh cinta pada alam dan petualangan, dan jatuh cinta pula pada ia yang selalu menjadi partner perjalanan ku saat ini. Seringnya kami bertemu, berjalan bersama, dan kegilaan kami akan petualangan akhirnya menyatukan hati kami. Tiga bulan setelah perjalanan kami ke Sulawesi, ia mengajak ku pergi ke suatu tempat di pinggiran Kota Bandung, Tebing Kraton namanya.

“Efrin, sini! view di sini lebih bagus. Kita foto bareng lah”

“Bentar Nand, mau ambil gambar di sini dulu”

Tak lama aku pun menghampirinya. Kami berfoto berdua, ritual yang hampir jarang kami lakukan ketika melakukan perjalanan. Tiba-tiba kedua tangannya singgah di bahuku.

“Hemph…” Ia mengambil nafas panjang seolah akan mengatakan hal yang sangat serius

“Kenapa Nand?” tanyaku.

“Mau jadi cewek gue ga?” tiba-tiba kalimat itu meluncur cepat dari bibirnya, dengan seulas senyum manisnya.

“Hah, apa? Gue ga denger” aku yang iseng seolah tak mendengar, meminta Nandi mengulang perkataanya.

“Fernanda Efrina, mau kah kamu menjadi pacar dari Nandito Pramudita?”

Aku sedikit kaget ketika ia mengucapkan kalimat itu dengan tenang namun tegas. Aku melihat ada kelegaan dari tarikan nafasnya, ada cinta di matanya. Cinta untuk aku.

Sekarang giliran ku yang sesak seketika. Degup jantungku kian cepat, aliran darah terasa begitu deras, dan oksigen terasa menipis.

“Efrin, kamu ga kenapa-kenapa kan?” melihatku seperti orang melihat hantu, Nandi jadi khawatir

“Ya udah, kalau ga bisa jawab sekarang, aku kasih waktu kamu buat mikir deh” Nandi menambahkan.

Tiba-tiba satu kalimat dari Novel Brida Karya Paulo Coelho melintas di kepalaku,“Kau bisa menemukan Pasangan Jiwamu dengan melihat cahaya di mata mereka.” Jujur selama ini aku sulit membuka hati untuk seseorang, apalagi aku baru kenal Nandi hanya setengah tahun. Tapi, aku melihat Nandi berbeda. Ia baik, pengertian, berwawasan, dan ia menganggap setiap orang berhak mengejar impian-impiannya tanpa terkecuali. Aku senang berlama-lama mengobrol dengannya, berdiskusi, menceritakan impian-impianku terhadapnya, dan aku menyadari aku jatuh hati pada pribadinya. Kali ini akan ku biarkan hati memilihnya.

“Aku mau kok jadi cewek kamu”

Sepersekian detik kemudian Nandi sudah mendaratkan pelukannya padaku yang mematung.

—***—

Waktu kian terasa melambat, rasanya baru kemarin aku bertemu Nandi, tapi saat ini orang tersebut jadi pacarku. Kata yang asing buat ku, namun nyatanya aku memilih dia ada di hidupku. Memilihnya jadi pasangan jiwaku, jadi puzzle pelengkap hidupku. Akhir tahun 2014, kami habiskan berdua di Kota Bandung sebagai sepasang kekasih.

—***—

Hari berganti bulan, kemudian tahun. Aku bahagia bareng Nandi dan bahagia dengan pekerjaanku saat ini. Enam bulan pasca kami jadian, Nandi pindah pekerjaan. Dia diterima sebagai fotografer di sebuah majalah traveling ternama di Ibu Kota. Sedangkan aku sendiri, setelah selesai kuliah memilih untuk menjadi asisten peneliti dan mengikuti ekspedisi di beberapa wilayah Timur Indonesia. Jadilah kami jarang bertemu. Kami menjalani impian kami masing-masing.

“Cinta sejati mengijinkan tiap-tiap orang mengikuti jalan mereka masing-masing, tahu mereka tak akan pernah terpisah dengan Pasangan Jiwa mereka-Paulo Coelho dalam Brida”

—***—

Seringnya aku tinggal di hutan dan jarang mendapat sinyal telepon seluler, membuatku sulit menghubungi keluargaku termasuk Nandi. Jadwal kerja ku dua minggu di hutan dan satu minggu di kantor. Saat di kantor lah aku bisa berpuas diri untuk menelepon Orang tua ku, dan selebihnya menelepon Nandi dan bercerita banyak hal padanya.

“Hallo, frin, akhirnya kamu telepon juga ya yang, kangen nih” sapa Nandi di ujung telepon

“Hai, sama” jawab ku singkat

“Kamu sehat disana?” Nandi menanyakan kondisiku, karena kali terakhir aku mengabarinya, aku terserang demam tinggi karena terlalu memforsir diriku.

“Alhamdulillah aku sehat, kamu gimana? Liputan di Sumatera lancar? Seneng?” tanyaku

Mengalirlah semua cerita liputannya selama di Sumatera malam itu. Ia bercerita liputannya mengenai Baiturrahman di Aceh yang megah, Danau Toba yang memukau di Sumatera Utara, serta kebudayaanaan Minangkabau yang begitu lestari di Sumatera Barat, serta Way kambas dengan Gajah-gajahnya di Lampung.

Setiap malam kami saling menelepon, memanfaatkan waktu seminggu liburku, dan ia mencuri-curi waktunya disela kesibukannya di kantor. Malam ini ia yang bercerita, besoknya aku, begitu seterusnya bergantian, hingga aku harus kembali lagi ke hutan dan libur ku usai. Kami membuat porsi yang sama ketika bercerita, biar adil, agar kami saling mendengarkan.

—***—

“Hallo yang, selamat pagi?”

“Halloooo” Dengan suara sember khas bangun tidur aku mengangkat telepon tanpa melihat siap yang meneleponku.

“Yang, kamu baru bangun tidur ya?”

“Eh iya, ini jam berapa emang?” kesadaranku kembali mendengar suara yang sangat aku rindukan.

“Kamu berapa lama lagi sih di Papua?”

“Ini bulan apa dan tanggal berapa sih?” tanya ku balik pada Nandi

“Ini 17 Oktober tahun 2016, ya ampun kelamaan di hutan ampe lupa bulan sama tanggal. Parah nih, mesti buruan diculik pulang ke Pulau Jawa”

“Iya nih yang, kangen banget ga ketemu kamu udah hampir setahun yah, oh iya tadi kamu tanya apa?”

“Kamu beres research di sana sampai kapan? Tepatnya tanggal berapa kamu beres dan pulang ke Jawa?” Aku diberondong pertanyaan dari Nandi, tumben dia tanya banyak banget.

“Bentar, aku liat buku catatan aku dulu.” Aku seret dengan malas sebuah buku kecil berisi agenda aku dan semua jadwal pekerjaan yang harus aku tuntaskan.

“Hemph, akhir bulan November aku beres ambil data di sini, Jadi awal Desember aku pulang”

“Ok fiks, bagus.” Tiba-tiba Nandi berseru

“Emang kenapa sih?” aku semakin bingung dengan pertanyaan lanjutan dari Nandi

“Kata si Bos di kantor, aku bisa ambil cuti akhir tahun 2 minggu, dan kamu juga libur kan setelah itu. Bagus kan berarti kita bisa ketemu, pacaran deh.”

“Oke, kita pacaran kayak orang normal ya, ga LDR macem gini” aku tertawa

Aku senang, akhir tahun bakalan ketemu Nandi, itu artinya setahun kami tak bertemu. Dan itu harus dirayakan.

—***—

Bandara Soekarno-Hatta, 3 Desember 2016

Nandi sudah menunggu ku di Pintu keluar terminal 2F. Ia langsung memeluk ku tanpa melihat ada carriel yang beratnya tiga perempat dari bobot tubuhku bertengger manis di bahuku.

“Kangen kamu” bisiknya di telingaku

“Berat nih, carriel masih nempel di bahu” jawabku dengan berbisik.

Nandi langsung melepaskan pelukannya, carriel ku pindah ke bahunya, dia langsung menggenggam tanganku dan membawaku ke parkiran.

“Nunggu lama ya tadi di Bandara, penerbangannya delay” aku menjelaskan ketika aku mulai merebahkan diri di jok mobil tepat di samping Nandi.

“Ga lebih lama dari nungguin kamu pulang ke sini kok, jadi santai.. hehe”

Seketika aku tersenyum menatapnya, dan bilang “Makasih ya, buat pengetiannya, dan penantiannya”

Senyum manis itu tak pernah berubah dari pertama aku melihatnya. Nandi masih sama seperti dulu.

Hari itu ia langsung mengantarkan aku pulang, dan membiarkanku istirahat.

“Kamu istirahat aja hari ini, besok aku jemput ya, besok jadwal aku cuma setengah hari di kantor”

“Siap bos, hati-hati ya”

Seusai bersalaman dan pamit pada Ibuku ia berlalu pergi.

–***–

“Assalamualaikum”

“Wa’alaikumsalam”

“Eh, Nandi, masuk, duduk nak, Ibu panggil Efrin sebentar”

“Iya bu, makasih? Bapak dimana bu?”

“Bapak lagi tugas ke luar kota, ke Yogyakarta. Sebentar ya ibu panggil Efrin dulu”

Dari dalam kamar aku mendengar percakapan mereka berdua. Karena kamarku tak jauh dari ruang tamu.

“Tok tok tok, frin”

“Iya bu sebentar” aku membuka pintu

“Itu ada Nandi di ruang tamu, sana temui, ibu mau buatkan minum buat dia”

“Iya bu, makasih ya”

Sambil mencium pipi Ibu, aku berjalan menuju ruang tamu

“Hai, macet ga tadi?” sapa ku

“Engga dong, kayaknya semesta mendukung, buat cepet-cepet ketemu kamu”

Tiba-tiba suara ibu membuyarkan gombalan-gombalan yang akan Nandi lontarkan kepada ku.

“Ini silahkan diminum teh nya, dimakan juga itu kue nya. Buatan Ibu loh”

“Oh iya bu, makasih” dengan kikuk Nandi mengambil gelas yang berisikan teh buatan ibu.

“Ibu tinggal ke belakang ya, dilanjut lagi ngobrolnya”

Tiba-tiba Nandi menyodorkan aku sepasang tiket pulang pergi Jakarta-Labuan Bajo. Disana tertulis nama ku juga nama Nandi.

“Ini maksudnya apa?”

“Akhir tahun ini kita bakalan liburan bareng dan anniversary kita yang ke dua tahun di Flores. How?”

Aku langsung mengecek tanggal keberangkatannya. Masih dua minggu kedepan ternyata.

“Kamu kok ekspesinya kayak ga seneng gitu sih yang?”

“Aku seneng banget kok, cuma aku kaget, khawatir kamu pilih tanggal liburan pas aku harus ngehadirin Seminar hasil research aku pertengahan bulan ini. Tapi untungnya engga, waktunya pas. Kamu udah ajuin cuti kan buat ini?”

“Udah dong, aku inget kok, kamu pernah bilang kamu harus buat laporan dan seminar setelah kamu ekspedisi. Aku inget juga tanggalnya. Sesuai pesan kamu, dicatat, jadi aku ingat” Nandi mendadak bawel menyerupai ku.

Aku hanya mampu menatapnya dan tertawa geli. “Ha ha ha ha”

–**–

Labuan Bajo, 20 Desember 2016

Kami mendarat dengan sempurna ditempat yang sudah lama aku impikan. Impian ini yang dulu aku bagi dengan Nandi. Ternyata dia lah orang yang membantuku mewujudkan impian itu.

“Makasih ya” aku berbisik padanya

“Sama-sama” Nandi menggenggam tanganku lebih erat

“Kamu tahu aku sebenarnya udah nabung loh buat kesini bareng kamu, karena gaji aku disana ga banyak, jadi belum cukup deh buat ajak kamu ke sini. Kamu dapet undian darimana bisa ajak aku ke tempat ini dan kita bakalan menghabiskan waktu sepuluh hari mengeksplor Flores yang di mulai dari tempat ini. Itu ga murah” jelasku

“Kamu inget kalimat ini Efrin? Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya. Kalimat dari Novel Sang Alkemis dari penulis favorit mu Paulo Coelho yang kamu ucapkan ketika aku mulai mengeluh susahnya nyari duit buat memenuhi kegilaanku akan petualangan. Saat itu aku belum kerja kayak sekarang dengan penghasilan tetap. Kamu waktu itu bilang, masalahmu sama dengan aku, kamu bilang cara terbaik adalah menabung. Kamu bilang setiap kamu ada uang yang jumlahnya pasti setiap bulan, kamu akan bagi uang tersebut menjadi 3 bagian, kebutuhan primer (konsumsi, tempat tinggal, kesehatan), kebutuhan sekunder (macam-macam berbeda setiap orang), dan tersier (traveling). Semuanya punya porsi yang sama penting di hidupmu, ketika kebutuhan primermu terpenuhi dan sekundermu tidak mendesak, maka dana itu akan masuk ke dana tersiermu. Ketika ada rejeki yang tak terduga, kamu masukkan ia ke dana tersiermu. Itu yang aku lakukan selama setahun kamu tinggal research. Satu lagi aku ikut asuransi kesehatan aku”

“Aku speechless mendengar penuturannya. Bukan karena dia yang bisa mengajakku ke tempat indah ini. Namun, tentang bagaimana dia belajar mengatur hidupnya, mengatur apa yang dia punya untuk memperoleh kebahagiaannya.”

“Berarti tabungan aku buat next exploration nih ya”

“Yup, kita ke Sumba ya” tawar Nandi

“Oke, setuju” teriak ku

Kedua pandangan kami menyapu sekitar yang hanya diterangi lampu remang-remang malam itu di atas kapal yang akan membawa kami berkeliling pulau-pulau disana. Hingga tiba-tiba

“Kalau tabungan aku segini, cukup ga ya buat ngajak kamu kepelaminan?” buku tabungan Nandi mendarat tepat di tanganku

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 2 =