Gunung Gede, Kala Hujan Menemani Pendakian

Hari itu (4/11/2011), kami berlima berencana untuk mendaki Gunung Gede. Karena ada satu dan lain hal, maka rombongan di bagi 2. Rombongan pertama terdiri dari 3 orang pria (Boker, Ade, Jaka) berangkat duluan untuk mengurus administrasi di kantor Taman Nasinal Gunung Gede Pangrango (TNGP) di Cibodas. Sedangkan  saya masuk ke rombongan ke 2 (hanya saya dan Ka Sinyo).

Perjalanan saya mulai jam 12.45 WIB dengan menggunakan angkot Kampus dalam- Laladon, Laladon- Sukasari (angkot 14), Sukasari-Cisarua, Bus Bogor-Cianjur, dan Angkot Cibodas yang warna kuning. Perjalanan ke Cibodas menghabiskan waktu 3 jam.

Masih seger...
Masih seger…

Sampai lah kami di Cibodas dan bergabung dengan rombongan pertama. Kami mengisi perut sebentar dan mempersiapkan diri untuk mendaki. Kala itu hujan rintik-rintik mulai berjatuhan.  Namun, kami tetap melanjutkan perjalanan. Tibalah kami di Pos pertama, kami melakukan pengecekan dan menulis barang-barang apa yang kami bawa dan yang menggunakan plastik. Saat rombongan melakukan registrasi dan berbincang-bincang dengan petugas, saya malah asik melihat Keluarga Lutung (Trachypitecus auratus)  yang sedang mencari makan, jumlahnya ada 8 ekor.

Lutung budeg
Lutung budeg

Kelayakan administrasi sudah kami penuhi, tibalah saatnya mendaki (Pukul 16.30). Hari mulai gelap ketika kami telah melewati Telaga Biru. Hujan rintik-rintik tentunya masih menemani perjalanan kami.

Pos demi pos kami lalui dengan perjuangan (bagi saya, karena saya wanita sendiri dalam rombongan). Istirahat, jalan lagi, istirahat lagi, jalan lagi. Panyangcangan, pos air panas telah kami lewati dengan sempurna. Kami beberapa kali istirahat untuk sekedar meluruskan kaki dan mengisi perut yang mulai keroncongan. Di kandang batu kami sempat beristirahat agak lama, memasak air dan menyeduh teh panas. Rasanya nikmat sekali. Namun, berhenti terlalu lama juga tak baik untuk kondisi tubuh yang mulai kedinginan. Akhirnya perjalanan kami lanjutkan. Kami bergegas untuk bisa sampai ke Kandang Badak. Walaupun kami sempat bertemu dengan sesama pendaki (namun mereka sedang turun) yang memberi kabar kalau ada Badai di Puncak Gn. Gede. I am worry

Kami mengambil keputusan untuk tetap ke Kandang Badak. Kami akan mendirikan tenda dan beristirahat sejenak. Berharap esok pagi bisa meneruskan perjalanan ke Puncak dan tak ada badai. Akhirnya kira-kira pukul 22.30 WIB sampailah kami di Kandang Badak.

Udara dingin menerpa sekujur tubuh. Saya mulai mengigil, karena saya salah menggunakan kostum. Saya menggunakan celan jins saat mendaki, dan ia menyerap dingin dan sulit untuk kering. Dibalik dingin yang menghujani tubuh, saya senang karena untuk ke dua kalinya bisa sampai ke Kandang Badak.

Tenda sudah berdiri, waktunya kami memasak. Kami memasak sup makaroni, bandrek, dan teh. Selesai mengisi perut, tibalah waktunya untuk tidur. Dan penderitaan saya pun dimulai.

Saya tak bisa tidur gara-gara kedinginan. Sleeping bag yang saya pakai hasil meminjam seorang teman malah bikin tambah dingin. Alhasil sepanjang malam saya hanya sibuk duduk, gosok-gosok kaki, menambah kaos kaki dan mendengarkan musik samapi pagi. Mau masuk sleeping bag temen, semuanya laki. Mau bangunin mereka, ga tega juga. Cuma tega pas minta anter pipis. hehe

Alhamdulillahnya ga hipotermia. Enam jam penderitaan saya melawan dingin yang berhasil bikin tekanan darah turun. Pala mulai agak pening, tapi wajah tetep cengengesan karena pas keluar tenda Ka sinyo dan yang laen sudah sibuk masak nasi. Akhirnya saya dan Jaka yang kebagian nyupir (alias nyuci piring).

Makanan dah siap, makanya pake Sosiz So N*ce (ni makanan malah jadi guyonan: gara-gara iklannya pake pemain TIMN*S). Lucu banget, lumayan buat bikin otot muka saya ga kaku gara-gara dingin. 🙂 🙂

Seusai makan, kami bergegas membereskan dan membersihkan semuanya. Jangan meninggalkan sampah!. Sebelum melanjutkan pendakian, kami berlima foto dulu. Hore saya paling cantik. 🙂

Cheers
Cheers

Jam 8.00 WIB pendakian dimulai, tak ada bonus (jalan yang datar) untuk kali ini. Nafas saya sudah mulai terengah-engah, mulai lemes, dan katanya muka saya dah mulai pucet (saya ga tau karena ga ada cermin). Mereka tahu saya kurang tidur.

“Elu kenapa ga bangunin, dan minta sleeping bag gue?” ujar sorang teman

Akhirnya, karena khawatir saya pinsan, tas saya dibawain Boker deh pas di Tanjakan setan ampe puncak gede. Lumayan ngurangi beban, walaupun ga menambah kecepatan saya dalam mendaki. Maap ye sumpeh lemes daku. 🙁

Hutan Tropis
Hutan Tropis
Tanjakan setan, Gunung Gede
Tanjakan setan, Gunung Gede

Jam 11.00 nyampe di Puncak gede (tapi belom yang paling puncak). Istirahat bentar dan foto-foto. Perjalanan dilanjutkan dan saya bawa tas lagi. Ternyata saya msh ga kuat, ditengah jalan tas kembali berpindah bahu, kali ini Jaka dan Ka Sinyo yang mendapat giliran. Kami sampai di puncak  Gn.Gede sekitar pukul 12.00 siang.

Istirahat isi bensin
Istirahat isi bensin
Kabutnya tebal
Kabutnya tebal

Waktunya turun ke Surya Kencana, jalannya lebih terjal dibandingkan 3 tahun silam. Sampai di Surya kencana, saya malah tidur. Sedangkan yang lain pada masak air,  saya lemes parah.

Hampir aja terlelap, saya dipanggil suruh ngemil ma minum teh, biar ga lemes. Tapi tidur lebih saya butuhkan saat itu. Dengan berat hati nyemil plus minum susu anget (malas ngeteh).

Waktunya bernarsis di Surya kencana. Pengen guling-guling sebenernya. Pengen treak-treak maki-maki satu nama orang disitu. Tapi ga enak euy. Takut ketahuan kalau saya bener-bener lagi patah hati. Bisa jadi korban ceng-cengan seumur hidup.

Surya kencana sepi kala itu, hanya ada kami dan beberapa pelari internasional yang sedang latihan untuk turnamen. Hamparan edelwise yang belum berbunga membuat Surya Kencana tak kehilangan pesona. Bunga edelwisenya kapan mekar ya?

Surya Kencana
Surya Kencana

Pukul 14.00 WIB, waktunya turun, target 3 jam nyampe pos Gn. Puteri. Target meleset hingga 4,5 jam. Diguyur ujan selama perjalanan turun, bikin badan  tak karuan. Ketika gema takbir menyambut Idul Adha berkumandang. Kami masih menyusuri sawah untuk bisa sampai di Pos Gn. Putri. Alhamdulillah nyampe juga ke pos. Walaupun tas saya harus dibawa secara bergiliran oleh kakak-kakak semuanya yang baik hati gara-gara bahu cidera. 🙁

Surya kencana (berkabut)
Surya kencana (berkabut)

Terimaksih semua, kapan-kapan kita nanjak bareng lagi ya bapak-bapak.

Salam,

Nunuz

*Foto oleh Saya, Kak Sinyo, Ade, dan Boker

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 8 =