Review: Cerita Cinta Enrico-Ayu Utami

Ini buku Ayu Utami pertama yang berhasil saya tuntaskan, sebelumnya membaca Bilangan Fu hanya sampai setengahnya saja. Buku karya penulis yang satu ini memang nyentrik dan berat sih menurut saya. Tapi tidak demikian dengan Cerita Cinta Enrico yang diambil dari true story.

Enrico atau Prasetya Riska merupakan anak kedua dari pasangan Muhamad Irsad dan Syrnie Masmirah. Enrico lahir 15 Februari 1958 bersamaan dengan pemberontakan PRRI. Ia memiliki seorang kakak bernama Sanda, yang kemudian meninggal. Akhirnya Enrico hidup sebagai anak tunggal. Nama Enrico sebenarnya diambil dari nama penyanyi favorit sang ibu, Enrico Caruso yang menyanyikan lagunya Santa Lucia.

Enrico begitu mengagumi ibunya. Mungkin sosok ibunya adalah cinta pertama dalan hidup Enrico. Ia mengagumi ibunya yang cerdas, berpenampilan menarik dengan sepatu pentovelnya dan tentunya selalu membuat Enrico berpenampilan keren dengan selalu menjahitkan pakaian-pakaian yang bagus. Ibunya pula yang mengajarkan Enrico bermain harmonika melantunkan lagu Santa Lucia. Ibunya selalu meminta Enrico memainkan permain Harmonika di dekat gereja agar terdengar oleh Pastur. Hingga akhirnya ia bisa bersekolah di sekolah-sekolah yang bagus dengan biaya yang minim berkat kemampuannya memainkan harmonika dan perjuangan sang ibu bernegosiasi dengan pihak gereja.

Namun semuanya berubah ketika ibunya kehilangan Sanda dan mengenal saksi Yehuwa. Sebuah kepercayaan yang memberi ibunya harapan akan kebangkitan Sanda dan keyakinan akan kiamat yang akan datang di tahun 1975, ketika usia Enrico tujuh belas tahun. Enrico tidak begitu mempercayai itu.

Buku ini menyajikan kisah hidup Enrico dalam bentangan sejarah. Kisah akan cinta pertama, patah hati, dan cinta terakhir. Itu juga yang menjadikan Enrico mengerti dan tahu sejarah dengan cara yang berbeda. Episode demi episode dalam hidupnya hampir bertepatan dengan peristiwa bersejarah di negeri ini. Mulai dari pemberontakan, perlawanan akan orba, pergantian presiden dan lain sebagainya. Yang tanpa sadar mengajak saya belajar mengenai sejarah negeri ini.

Kisah masa kecil, kenakalan-kanakalannya hingga perjuangannya untuk bisa sekolah ke Bandung dan pindah dari Sumatera digambarkan dengan jelas tanpa sensor. Enrico yang kemudian menjelma menjadi seorang pria matang dan bertemu dengan A. Seorang perempuan yang mengingatkannya pada sang Cinta Pertama. A yang kemudian jadi cinta terakhirnya Enrico.

Buku yang diakhiri dengan perdebatan-perdebatan mengenai keyakinan, dosa, kebebasan, kematian, bahkan tentang pernikahan dan lembaga pernikahan yang mereka ragukan. Sedikit berat namun menyegarkan pengetahuan dan pemikiran.

“Perempuan adalah teman bermain, bukan mainan.”

“Aku merasa bahwa perempuan jauh lebih tangguh daripada laki-laki. Dan mereka memikirkan kehidupan bukan kegagahan. Kami, para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedangkan perempuan berbuat untuk orang lain.”

Buku ini juga menyadarkan bahwa kita kadang terpaku hanya pada permasalahan dosa dan tidak dosa. Bahkan menghakimi orang lain yang kita anggap berdosa tanpa melihat diri kita yang juga penuh dosa. Daripada meributkan itu semua, mengapa energi yang kita punya tak kita gunakan untuk berbuat kebaikan?

“Jangan-jangan karena kamu takut melihat dirimu penuh dosa kamu menolak agama.”

“Justru karena kita semua berdosa, seharusnya kita tidak lagi terobsesi pada dosa dan tidak dosa, dan lebih menggunakan energi untuk berbuat baik bagi orang lain.”

“Pada akhirnya ada tiga hal ini: iman, harapan dan kasih. Dan yang paling besar diantaranya adalah kasih.”

Yang mengejutkan dari kisah cinta dalam bentangan sejarah ini adalah sang parasit lajang yang ternyata bersuamikan Enrico.

*Photo from google

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + 4 =