Dikocok jalanan menuju Pantai Bugel

this-is-home

Pribahasa menyatakan Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Sepertinya pribahasa tersebut cocok dengan perjalanan saya kali ini. Bukan karena harus berakit dan berenang untuk sampai ke tempat ini. Tapi, saya harus melewati jalan rusak, berbentuk tanah yang tak lagi rata alias tanah lumpur pesawahan. Mobil kami bisa miring kanan kiri untuk lewati jalanan di Desa Camara ini. Sport jantung rasanya, ketika gas mobil menderu kencang, dengan posisi mobil miring tajam. Batin saya hanya mampu bergumam, “ya Tuhan jangan sampai kebalik nih mobil”.

Kami hanya berlima hari itu, dan saya wanita satu-satunya di dalam mobil. Beruntung tiga teman dengan sigap turun untuk mengarahkan mobil ketika melewati jalanan rusak parah ini. Mereka sesekali mencari papan untuk menutupi jalanan becek, kawatir ban mobil terjerembab dan slip. Beruntung pula semalam tidak hujan, setidaknya tanah-tanah ini sedikit lebih keras.

Sesekali kami berpapasan dengan motor-motor dari arah berlawanan. Mereka berujar, masih ada lagi jalanan yang rusak parah di depan.

Saya dan adik saya yang kala itu jadi supir kompak menjawab “mobil bisa kan?”

“bisa” jawab mereka

Usai penderitaan dikocok jalanan, inilah pemandangan alam yang menanti kami. Awan-awan putih yang berarak yang sedari tadi menemani perjalanan kami, kali ini berpadu cantik dengan bentangan sawah hijau.

“stop dong ki, gue mau ambil foto” pinta saya

Mobil pun berhenti tepat di pinggiran jalan. Saya keluar mobil dan berlari kecil menuju spot untuk mengambil foto panorama.

View on the road
Pemandangan dan jalan menuju Pantai Bugel

Perjalanan pun dilanjutkan. Tak lama kami pun tiba di gerbang sebuah lapangan yang menyerupai lapangan golf, dengan beberapa motor terparkir diluar gerbang. Setelah berbincang-bincang beberapa saat dengan satpam, dan membayar uang keamanan, kami pun diizinkan untuk masuk kawasan.

Pantai Bugel-Camara terletak kurang lebih 500 meter dari pintu gerbang. Kami diharuskan berjalan kaki melewati padang rumput yang sedikit kurang terawat. Dan siang itu, Bugel cerah dalam balutan langit biru dan awan-awan seputih kapas. Tentunya dengan sengatan matahari, yang membuat gosong kulit ini.

Siang di Pantai Bugel
Siang di Pantai Bugel

Sore menjelang, ketika kami mulai mencari spot untuk mendirikan tenda. Sesuai pesan dari Pak Satpam, kami tak boleh mendirikan tenda di area rumput. Berkeliling lah kami mencari posisi tepat yang tak akan terkena terjangan ombak. Tenda pun berdiri selepas senja yang mendung.

Senja yang mendung di Pantai Bugel
Senja yang mendung di Pantai Bugel

Malam beranjak perlahan, ombak menerjang batu karang dengan lebih intens. Sepi mulai menjalar dan nyamuk-nyamuk ganas mulai siap menyerang kami. Untuk masalah kemanan, Pak Satpam mempersilahkan kami membawa mobil untuk terparkir di dekat tenda.

Dentingan gitar sesekali dimainkan, suara sumbang pun turut serta mengiringinya. Kami berlima duduk melihat beberapa bintang dilangit sambil menunggu makanan matang. Kami berbincang mengapa beberapa tempat wisata harus dijaga ketat dan dibatasi pengunjungnya.

Sampah adalah salah satunya. Wisatawan adalah pembawa sampah, mereka hanya menuntut keindahan alam tanpa mau menjaganya. Selain sampah, kadang kita lupa tatakrama, sopan santun. Karena saya masih melihat beberapa orang datang tidak masuk lewat jalur semestinya. Sudah masuk tanpa ijin, meninggalkan sampah pula.

Morning sunshine
Matahari pagi di Pantai Bugel

Malam beranjak pergi dan matahari pagi mulai menyinari. Ia muncul dari balik bukit membentuk siluet-siluet pepohonan dalam rona warna yang menawan. Kepulan asap dengan aroma yang khas mencuat dari secangkir kopi. Selamat pagi semesta, ngopi dulu.

Morning at Bugel Mega Camara Beach
Morning at Bugel Mega Camara Beach

Saya berlarian di padang rumput, mencari spot untuk menangkap momen pagi itu. Dan tak disangka dua pelangi muncul di sisi barat menambah manis pagi kami di Pantai Bugel. Ucapan selamat pagi yang akan terkenang dengan manis di memori kami.

Sea and the rainbow
Sea and the rainbow

Selamat pagi dipenghujung pekan (Mei/8/2016), semoga harimu berwarna seperti pelangi pagi ini.

Selamat berkelana, keep calm and clean.

Salam,

Nunuz

8 comments

    1. Iya kak, buat kita yang sesekali dateng kesana, kondisi jalan kayak gitu jadi punya cerita.
      Tapi buat masyarakat sana, itu jadi keseharian yang menguras energi.
      Pas mobil ku tergelincir, aku lihat beberapa orang yang mau ke ladang menggunakan motor juga ikut tergelincir.
      Ngebayangin kondisi itu harus dihadapi tiap hari, bikin ngelus dada.

  1. haha pantai bugel cemara, jd kangen berenang disana lg.. memang pengalaman brharga tinggal dipelosok pedalaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 9 =