Edelweiss: Mengabadikan keabadian

edelweiss-in-semeru-mountain

Saya ingat kali pertama melihat bunga ini terhampar luas di Alun-alun Surya Kencana, Gunung Gede. Kala itu di pertengahan Mei 2008, bunga ini belum banyak yang bermekaran. Ingin rasanya memetik bunga tersebut, saking cantiknya. Salah satu teman bilang, itu bunga dilindungi, dipetik denda dua milyar. Anehnya saya percaya dengan nominal denda tersebut. 😛

Edelweiss in Suryakencana, Gede Mountain
Edelweiss in Suryakencana, Gede Mountain (Photo by Kak Sinyo)

Kemudian saya menyebut bunga ini bunga termahal, bunga dua milyar. Entah benar atau tidak dengan nominal denda tersebut, tapi itu cukup membuat saya hanya mampu mengagumi keindahannya saja. Edelweiss dilindungi karena berada di Kawasan Konservasi salah satu satunya Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Nama Edelweiss sendiri berasal dari bahasa Jerman, yaitu Edel “Mulia” dan Weiss “Putih”. Di Switzerland bunga ini menjadi simbol kemurnian dan kecantikan, sedangankan di Rumania bunga ini disebut sebagai Floarea Reginei dan Queen’s Flower yang berarti Ratu Bunga. Beda lagi dengan di Amerika utara, mereka menyebutnya western pearly everlasting.* Meskipun Edelweiss yang dikenal di luar negeri dan Indonesia berbeda, namun karakter bunga yang tak layu sehingga abadi tetap melekat bersamanya.

Edelweiss yang telah mengering
Edelweiss yang telah mengering

Edelweiss yang bergenus Anaphalis dan masih berkerabat dengan bunga matahari ini ternyata memiliki beberapa spesies yaitu Anaphalis javanica (Edelweiss Jawa), Anaphalis nephalensis, Anaphalis triplinensis, dan Anaphalis margaritacea. Nah, yang di Indonesia adalah Anaphalis javanica.* Hemph, jadi cuma satu spesies nih? kok dibeberapa gunung beda ya? ada yang bisa jelasin saya penasaran.

Edelweiss in Papandayan Mountain
Edelweiss in Papandayan Mountain
Edelweiss Edelweiss
Edelweiss and Edelweiss in Lawu

Jadi begini ceritanya, waktu saya ke Papandayan, warna bunga edelweiss itu kuning, dan pohonnya rada-rada beda dengan yang saya lihat di Gunung Gede. Nah, pas di Gunung Lawu, nih bunga edelweiss beda lagi, malah ada dua tipe bunga dan daun. Daunnya ada yang lebat dan yang jarang-jarang. Yang di Gunung Merbabu pohonnya bisa setara dengan tinggi badan saya, mirip sama yang di Semeru. Ada yang punya referensi tentang ini? saya ingin tahu.

Edelweiss in Merbabu Mountain
Edelweiss in Merbabu Mountain
Edelweiss in Semeru Mountain
Edelweiss in Semeru Mountain

Selain bunganya yang cantik dan hanya tumbuh di ketinggian sekitar 2000an ke atas, bunga ini memiliki mitos yang cukup melegenda. Apalagi kalau bukan mitos yang berhubungan dengan Cinta. Konon katanya bunga ini menjadi lambang keabadian cinta, jadi ga sedikit pasangan yang memberikan bunga ini kepada wanitanya agar cinta mereka abadi. Baik bunganya berasal dari memetik langsung saat mendaki atau membelinya di penjual bunga.

Saya menemukan bunga ini dijual bebas di Bromo, Jawa Timur. Saya sempat kaget, loh kok dijual, kan dilindungi, apa di Bromo engga ya, saking banyaknya gitu, tapi dimana lokasinya?. Pertanyaan itu sempat hinggap dipikiran saya. Hemph, beli apa ya? pengen punya buat dirumah. Tapi saya urung membeli, ingat Edelweiss bunga dua milyar, meskipun yang jual ga lebih dari 50K. 🙂 🙂

Edelweiss in Lawu Mountain
Edelweiss in Lawu Mountain

Tampaknya bunga dua milyar ini melekat sekali dikepala saya. Padahal denda aslinya adalah kurungan maksimum sepuluh tahun atau denda maksimal 200 juta, bukan dua milyar. Ya rapopo deh, bunga dua milyar lebih kece kedengarannya. #hororsamahukumannya

Juli lalu, saya ga sengaja nih ngobrol ngalor ngidul bareng petugas di TNBTS alias Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Awalnya sih ngomongin Suku Tengger, pindah ke Lutung, pindah ke Verbena brasiliensis, terus tentang konservasi, dan berakhirlah diobrolan tentang Edelweiss ini.

Kebun Edelweiss alias Tegal Alun
Kebun Edelweiss alias Tegal Alun

Jadi sebenarnya Edelweiss di TNBTS ini dilindungi, tapi masih saja ada yang ilegal menjualnya. Selain itu, disetiap pelaksanaan upacara-upacara adat, bunga ini menjadi salah satu bunga yang wajib ada dipersembahan. Masyarakat Tengger menyebutnya Tanah Layu yang dalam bahasa Sangsekerta Tan “tidak” yang berarti tidak layu. Persembahan bunga ini dimaksud agar leluhurnya abadi.

Jumlahnya yang kian menurun di Bromo, membuat Edelweiss di Gunung Semeru pun mulai terusik. Posisi sebagai bunga yang dilindungi membuat Edelweiss menjadi layak untuk mendapat perhatiaan.

“Mau nanam Edelweiss”

“Hah, nanam Edelweiss, dimana pak?”

Tawaran menanam Edelweiss yang tak boleh dilewatkan. Kapan lagi nenteng-nenteng tuh bunga Edelweiss. Metik seuprit aja ga sanggup.

Saya kemudian mengajak teman saya untuk bergabung menanam Edelweiss di dekat kantor TNBTS. Mereka ga kalah girang dengan saya. 🙂 :).

#TNBTSSAVEEDELWEISS jangan sampai muncul dibeberapa tahun kedepan, sebagai upaya pelestarian tanaman yang bersimbiosis dengan mikoriza, yang dapat meningkatkan penyerapan unsur hara (meningkatkan kesuburan tanah) dan mengurangi erosi ini, karena semakin berkurang jumlahnya. Menanam Edelweiss sepertinya menjadi salah satu solusi setidaknya untuk mengurangi pengambilan Edelweiss di alam untuk diperjualbelikan secara ilegal. Mungkin nanti yang diperjualbelikan adalah hasil budidaya, jadi legal.

Edelweiss, Edelweiss

Every morning you greet me

Small and white, clean and bright

You look happy to meet me

Blossom of snow may you bloom and grow

Bloom and grow forever

Edelweiss, Edelweiss

Bless my homeland forever

(Sebuah lagu dari the  sound of music)

Menanam Edelweiss mungkin bakalan asik banget dan jadi ajang mengabadikan keabadian kali ya. Karena yang abadi pun ga bakalan abadi sih kalau ga dirawat, kayak Cinta. #eaaaaaa 🙂

Edelweiss in Bromo Mountain

Terlalu tinggi untuk ku raih, terlalu egois bila ku petik, namun terlalu sayang untuk ku tinggalkan. Edelweiss

Mari berkelana, bahagia.

*dari berbagai sumber

** hei kamu Edelweiss, next year ketemu ya. Jadi harus hidup dan berbunga. 🙂

10 comments

  1. Bunga keabadian tapi ga akan abadi jika tangan tangan jahil mengusiknya. Eh kabarnya di dieng bunga ini juga dibudidayakan klo sdh bgini bgmana dgn perlindungannya ya 😉

  2. aiiih asik banget ini bisa nanam edeilweiis..
    Dulu pertama kali ke bromo dengan polosnya aku beli beli aja bunga ini, lalu upload foto di instagram
    Hahahaaa

    Terus ada kakak kelas pecinta alam yang komentar.
    Komentarnya biasa aja, tapi menohok.
    Baru deh aku cari cari info tentang bunga ini.

    Dan.
    Ternyata di lindungi.

    Merasa bersalah sih , tapi udah terlanjur.
    Hahaa

    Menanam bunga edeilweis ini hanya ada di acara acara tertentu ya ?

    1. Waktu itu kebetulan saya dapet kenalan orang kehutanan saat ke Bromo.
      Ngobrol2 soal konservasi dan tanaman-tanaman langka.
      Kebetulan juga beliau sedang ada program menanam edelweis dalam rangka mengurangi pengambilan dari alam.
      Sejenis upaya konservasi.
      Dan beliau menawarkan saya untuk ikut menanam. hehe
      Mungkin kalau main ke Bromo, coba saja main-main ke kantor kehutanannya.
      Ada kebun edelweis juga dibelakangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + 7 =