Slow Travel: Biar Lambat Asal Selamat

slowtravel

Setiap orang tentu menyukai kegiatan travelling atau bepergian. Mengunjungi tempat baru dan mencontreng satu persatu impiannya. Tak terkecuali saya, dan itu sah-sah saja. Begitulah dunia ini sekarang bekerja. Kemudahan informasi, jaman yang semakin modern, dan kebutuhan akan eksistensi dimedia sosial memicu semua itu terjadi.

Saya percaya semua orang punya alasan tertentu untuk melakukan suatu perjalanan. Alasan-alasan itu pula yang menyebabkan setiap orang memiliki gaya berbeda-beda dalam melakukan perjalanan.

Belakangan banyak bermunculan istilah checklist traveler, flash traveler, backpacker, atau masih banyak istilah-istilah lainnya yang merujuk pada suatu gaya perjalanan. Saya sampai bingung, saya termasuk yang mana ya? Ah ga penting, yang penting melakukan perjalanan.

Saya memang lebih sering memilih untuk melakukan perjalanan dalam durasi yang lebih panjang, tapi terkadang bisa dalam waktu yang pendek. Balik lagi tergantung tujuan. Kalau naik gunung saya belum sanggup berlama-lama.

Slow travel, istilah yang baru bagi saya. Istilah ini merujuk pada perjalanan yang sifatnya tidak terburu-buru, agar pengalaman yang didapat lebih banyak dan memperkaya diri kita. Saya setuju, kadang kita perlu melambat, agar cukup leluasa melihat, kemudian mencerna.

“Kita hanya butuh membuka mata, membuka telinga, membuka hati dan pikiran serta sedikit membuka mulut untuk memaknai perjalanan”

Beberapa perjalanan cukup membekas dalam diri saya, terutama jika saya melakukan perjalanan itu sendirian. Ketika saya cukup leluasa untuk bisa berinteraksi dengan penduduk lokal tanpa harus disibukan dengan rombongan trip.

Dari mereka saya banyak belajar tentang hidup. Tentang berjuang, tentang merelakan. Tentang sabar dan menerima. Tentang cinta, tentang setia. Perjalanan mengajarkan saya banyak hal tentu kalian juga kan?

Masyarakat Baduy mengajarkan saya tentang iman, tentang kesederhanaan, mandiri dan kerja keras. Masyarakat di sana tak ada yang benar-benar mengganggur, mereka melakukan apa saja. Semangat gotong royongnya pun tinggi, baik itu saat berladang, membangun rumah, ataupun jembatan.

“Dalam diri manusia ada dua, yaitu air dan api. Keduanya tidak boleh saling menguasai. Harus imbang.”-Ayah Kaldi

Iman adalah hal yang hampir tidak terdefinisi. Karena ketika yakin, dan seseorang bertanya padamu mengapa yakin. Kamu hampir sulit menjabarkan alasan-alasannya”-sumber

orang baduy
Wanita-wanita Baduy Luar

Perjalanan hampir dua minggu di Lombok juga salah satu yang berkesan bagi saya. Pulau yang dihuni oleh penduduk yang mayoritas beragama Islam dan Hindu ini, memiliki tradisi Perang Topat untuk mengingatkan pentingnya toleransi antar umat beragama.

“Karena perbedaan bukan untuk diperdebatkan, tapi dihayati dan dipelajari.”-sumber

Pujawali 21
Perang Topat di Pura Lingsar

Selain itu, penduduk Dusun Bayan Beleq menunjukkan bahwa merawat tradisi bukan berarti harus tertinggal. Pendidikan yang baik adalah salah satu kunci bagaimana mereka mengharmonisasikan tradisi dengan kebutuhan akan perubahan. Mereka juga menjunjung kesetaraan dan toleransi.

“Jika hanya seorang saja yang berpakaian, sedangkan yang lain belum mampu berpakain, biasanya orang yang berpakaian itu sakit. Bukankah hal ini sebenarnya menggambarkan kesetaraan?”-sumber

Dusun 5
Penduduk Dusun Bayan Beleq

Lalu perjalanan saya baru-baru ini hampir dua minggu di Jawa Timur. Saya melihat bagaimana masyarakat Tengger begitu berterima kasih pada alam dan leluhur yang memberinya semua kebutuhan. Mereka melakukan ritual Kasada, dan memberikan persembahan sesajen. Sesajen itu kemudian diambil lagi oleh penduduk yang lain. Saya melihat cara berbagi rezeki yang unik di sini.

sesajen-di-kasada-bromo
Salah satu sesajen di Kasada Bromo

Dengan melambat, sebenarnya kita tak akan merugi, justru mungkin akan memperkaya diri. Kita akan lebih punya waktu merenungi perjalanan yang kita lalu. Lalu kemudian bisa menentukan perjalanan seperti apa yang ingin kita jalani.

Slow travel, mengajak kita untuk melambatkan laju. Karena alam pun terkadang membutuhkan jeda untuk beristirahat. Meningkatnya antusiasme wisatawan terhadap tempat wisata tertentu, tak jarang menyebabkan kerusakan ditempat tersebut.

Terumbu karang yang patah, lantaran terlalu banyak yang snorkling, namun tak memiliki keahlian yang mumpuni. Gunung yang mendadak ramai, hingga ekosistem terganggu, dan sampah yang tak bisa dikatakan sedikit kini menjadi masalah. Bahkan mungkin rumput pun ingin punya waktu untuk tumbuh subur tanpa perlu kita injak-injak.

Melambat sebenarnya mempercepat laju informasi. Karena mau tak mau sebelum melakukan perjalanan, kita akan mencari info sebanyak-banyaknya mengenai tempat itu, persiapan yang matang, dan tentunya perjalanan menjadi kegiatan mengkonfirmasi dan menambah wawasan kembali.

“Setiap harinya kita melakukan perjalanan, berhentilah sejenak, ada kopi enak di sini. Mari berbincang dengan ku tentang bagaimana perjalananmu. Aku ingin dengar, atau kau yang mau mendengar kisah perjalananku?.”

Sejauh ini, saya masih mendamba untuk bisa melakukan perjalanan dalam durasi yang lebih panjang, Mengunjungi suku-suku di Indonesia tentunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + 4 =