Under the Souhtern Stars: Anida Dyah

img_20161029_201858

…”Siapa pun pasti tergoda dengan kata-kata keliling dunia. Semua ingin melakukannya. Tetapi mengepak barang dan benar-benar pergi? Tidak semua orang bisa.”-Thomas

Under the southern stars, sebuah buku perjalanan dari wanita Indonesia di Benua Australia. Anida Dyah, memilih meninggalkan kenyamanan yang ia miliki di tanah air untuk hijrah ke Benua Australia dengan berbekal Work Holiday Visa (WHV). WHV sendiri adalah visa yang digunakan untuk bisa tinggal dan bekerja selama setahun di Negeri Kangguru ini.

Buku ini ibarat diary Anida. Ia bercerita apa yang melatarbelakanginya hijrah, perjuangannya memperoleh pekerjaan hingga bisa menjelajah bersama tiga orang stranger selama 30 hari sejauh 4500km. Ia juga menceritakan kegusarannya akan paradigma orang kebanyakan tentang bagaimana seharusnya seseorang menjalani kehidupan.

…Seolah-olah jalan hidup seseorang adalah sama. Seolah-seolah kehidupan orang lain adalah kehidupan mereka juga. Pakem urutan hidup yang diterapkan sudah jelas: sekolah, kuliah, bekerja, menikah. Lalu, pikirku, kapan kita punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi untuk melihat dunia?

Impiannya menjejakan kaki di berbagai tempat mematahkan jalan hidup orang kebanyakan. Dia akhir usia dua puluhan ia malah pergi memulai petualangannya. Ia kemudian bertemu dengan Judith seorang wanita dari Jerman, Thomas dan Aymeric dua orang pria yang berasal dari Prancis.

Mereka berempat kemudian berjalan bersama berkeliling Benua Australia, menjelajahi hutan eukaliptus, melewati jalanan panjang yang sepi, melintasi gurun, antartika, hingga bertemu Kangguru serta Koala. Sungguh perjalanan yang mengasikan saat kita bayangkan.

Saat membaca buku ini, banyak terdapat percakapan antara Thomas dan Anida. Sepertinya mereka klik untuk berbagi cerita dan pemikiran. Banyak kalimat-kalimat dari percakapanan mereka yang saya suka, jadilah saya tulis di postingan kali ini.

Percakapan mereka mengenai tato yang dibudaya kita masih berkonotasi dengan hal negatif menjadi hal yang menarik.

“Aku membuatnya di Ulan Baton. Ditulis dalam bahasa Mongol kuno. Perpaduan antara kata ‘percaya’ dan ‘harapan’. Seperti filosofi hidupku, kalau engkau benar-benar menginginkan sesuatu, lakukanlah. Selalu percaya bahwa kau bisa melakukannya.”-Thomas

“Kenapa kau memiliki tato?” tanyaku penasaran. “Menorehkan tanda yang tidak bisa hilang merupakan sebuah komitmen besar, bukan?” Tato selalu menjadi hal pro dan kontra di Indonesia, terutama jika dihubungkan dengan agama dan norma.

Thomas adalah sosok yang dewasa sih kalau merujuk percakapan-percakapan yang tertuang dibuku ini. Sang pemain sirkus ini mengajarkan arti sebuah komitmen dan pilihan dalam hidup.

Memiliki tato seperti sebuah sikap perlawanan, bahkan bagi anggapan sebagian orang merupakan simbol sebuah kejahatan. Terlepas dari itu semua, jika seseorang ingin membuat sebuah komitmen yang akan melekat seumur hidup pada tubuhnya, bukanlah setidaknya hal itu memiliki cerita dan makna yang bisa selalu kau jaga?

Lewat interaksi keempat orang yang memiliki latar belakang budaya berbeda, usia berbeda, pekerjaan berbeda, pada akhirnya memperkaya perjalanan mereka. Perseteruan memang tak bisa dihindarkan dalam suatu perjalanan. Tapi itulah seninya, seni memperkaya diri untuk belajar memahami.

Buku ini mengajak saya berjalan-jalan di Negeri Kangguru. Saya membayangkan betapa panasnya di dalam mobil, betapa panasnya hati dan pikiran ketika keributan demi keributan mewarnai perjalanan. Namun, betapa bersyukurnya masih bisa diberi kesempatan untuk bisa melihat dunia yang begitu luas dan berbeda. Anida membuat saya iri.

Jeda merupakan sebuah hal yang mendasar dan bersifat universal. Semua orang perlu menambah variasi pengalaman hidup dan menghindari mati karena kejenuhan. Bagaimana kalau hidup ternyata tidak sepanjang yang kita bayangkan? Kalau hidup ini singkat, kenapa kita tidak melakukan hal yang kita suka selagi kita bisa? Kalau hidup menawarkan banyak pilihan, kenapa kita sering terjebak dengan menjalani hal yang itu-itu saja?

Hidup itu pilihan. Dan buku ini malah membuat saya bertanya akan pilihan yang akan saya ambil kelak. ­čÖü

“You see, prinsip hidupku sangat sederhan. Jika kau ingin melakukan sesuatu, lakukanlah. Jika lingkunganmu tidak bisa mewujudkannya, kau bisa melakukan dua hal: pergi atau beradaptasi. Easy.”-Thomas

Racun, buku ini racun. Ia mengalir didarah saya, membuat kepala ini mendidih. Membayangkan petualangan yang memang tidak selalu menyenangkan, tapi selalu memperkaya hati dan pemikiran saya, terutama wawasan.

Bukankah wawasan dan cara membawakan diri lebih penting dari sekedar penampilan?

Anida bercerita dengan sangat baik dibuku ini. Ia juga membagi hal yang penting dari suatu perjalanan.

… hal paling mendasar saat melakukan perjalanan dengan traveler lain adalah budget. Budget berbicara tentang kenyamanan yang belum tentu bisa dilepaskan oleh semua orang. Budget akan mempengaruhi berbagai keputusan besar seperti makanan, tempat bermalam, aktivitas, hingga tempat yang hendak disinggahi. Besar atau kecilnya biaya bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika tidak tercapainya kesepakatan yang bisa mengakibatkan perpecahan.

Dalam sebuah perjalanan, memiliki rekan dengan pemikiran dan ketertarikan yang sama itu penting. Namun, memiliki rekan yang bisa menyesuaikan diri ternyata lebih penting lagi.

Jujur, saya seperti sedang bercermin pada kisah Anida. Pertaruhan antara keinginan dan tuntutan, kegagalan dan kekecewaan, yang kadang datang seenak udel dihidup saya. Dan perjalanan kadang jadi obat segalanya.

Apakah aku bisa berada di sini jika tidak melalui semua kegagalan itu? Apakah setiap orang perlu ditendang oleh kehidupan agar jatuh tersungkur sehingga bisa mencium kesegaran aroma tanah? Ada rasa kelegaan merasuk di dalam dada. Terkadang, semua pikiran dan perasaan tak terselesaikan hanya ingin didengarkan. Lalu, mereka akan menguap diantara jutaan bintang.

Ucapan Thomas ke Anida yang ini bikin saya tersedak. Mengingatkan saya pada ucapan seorang kawan.

“Ada sesuatu yang membuat orang ragu untuk mendekatimu lebih jauh. Apa yang kau cari? Kenapa tembok itu begitu tinggi?”

Seperti ini kah saya?

Setiap orang memiliki titik kelemahan. Kelemahanku adalah mereka yang mampu menembus masuk melewati ekspresi wajah yang telah kutata sedemikian rupa agara tidak ada orang yang bisa membaca segala seuatu yang berkecamuk di dalamnya. Mereka yang bisa melihat lututku bergetar ketika kedua tanganku mengepal sekeras baja. Aku membuang muka untuk meninggalkan jejak rona.

Sepertinya…

Sedikit banyak aku mengakui kebenaran ucapannya. Kepingan-kepingan masa laluku membentuk karakter yang aku bawa sekarang. Setiap permasalahan dan kegagalan membuatku mambangun benteng pertahanan. Semakin lama semakin tinggi. Dengan beberapa penjaga ditempaatkan bersiaga di setiap sudut menara, tidak membiarkan siapa pun berjalan mendekat. Dulu aku terlalu sibuk untuk merasa takut terluka atau berduka, tetapi perjalanan ini telah mengajarkanku untuk menyelam ke dalam emosi sepenuhnya. Hanya dengan begitu aku bisa melihat diriku seutuhnya.

Berbahagialah karena kita ingin bahagia!

“Kau salah, Anida.” Hening sesaat. “Kau tertawa karena ingin bahagia.”-Thomas

Selama ini aku mencari kebahagiaan dari orang lain, barang, bahkan sebuah tempat. Teman yang baik dapat membagi duka dan menggandakan rasa bahagia. Namun, yang bisa membantu kita bangkit dari keterpurukan adalah keinginan dari diri sendiri unuk merasa bahagia.

Perjalanan kadang membuat kita jatuh hati, entah pada tempat, atau orang yang berada tepat disamping kita saat itu.

Sepertinya sebuah perjalanan mampu menciptakan momen yang intens untuk menciptakan hubungan platonis maupun romantis. Namun, apakah ada cukup waktu dan kesempatan untuk membuat kisah itu berkembang?

Mereka yang datang memberi kita ini.

“Saat ini kita dipertemukan agar bisa saling belajar, berbagi kasih sayang, pengalaman, dan harapan. Do what you have to do, dan berharap garis perjalanan kita bersinggungan kembali suatu hari nanti.

Saya selalu berpikir, bahwa teman perjalanan itu juga Jodoh. Kalau cocok akan ada petualangan berikutanya kalau ga ya good bye.

Travel brings the best and the worst out of you. Sebuah perjalanan bersama orang-orang yang tidak kau kenal seperti sebuah seleksi alam. Tidak ada tempat untuk memasang topeng atau menjual kepura-puraan. Kalau tidak cocok mereka akan menghilang. Namun, jika lulus ujian, kau akan mendapat sahabat yang selalu bisa diandalkan.

Dan setiap perjalan belajar ini,

“Sebaiknya kau mulai membiasakan diri. There’s always a goodbye in every hello, tetapi ingat, begitu pula sebaliknya, You will find another hello.”

Kenapa saya suka perjalanan? salah satunya seperti yang Anida rasakan.

Hal-hal terbaik justru datang dari kesederhanaan yang selama ini tak pernah disadari. Bukan tempat yang indah yang menjadikan perjalanan menjadi berkesan, melainkan orang-orang yang ditemui sepanjang perjalanan, upaya untuk beradaptasi dengan keadaan, dan kesempatan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam.

Mari berkelana, Bahagia!

2 comments

  1. Ini buku traveling favorit saya juga. Buku traveling yang tidak sekedar ngasih tau gimana caranya berpindah dari satu destinasi wisata ke destinasi wisata lainnya. Banyak banget ‘rasa’ yang diceritakan Anida.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 3 =