Benarkah Cantik Itu Luka?

cantik-itu-luka-eka-kurniawan

Buku Karya Eka Kurniawan ini Edan. Ia menyajikan alur yang indah menurut saya. Menyajikan tokoh demi tekoh dengan karakteristik yang unik, dan dialog-dialog yang-duh susah dijelaskan. “Cantik Itu Luka” adalah karya yang indah, bernilai, dan mengagumkan. Perasaan yang berkecamuk adalah yang saya rasakan ketika tiba dilembar terakhir buku ini. Pertanyaan itu muncul, “pernahkah ada kehidupan seperti ini dalam nyata?”

Dewi Ayu, yang memiliki empat putri bernama Alamanda, Adinda, Maya Dewi, dan Cantik memiliki jalan hidup yang berliku. Dipuja banyak pria, kisah cinta wanita-wanita ini tak semanis madu. Ini kisah sang pelacur-Dewi Ayu- yang disajikan berbeda. Tokoh Dewi Ayu cukup kontroversial di sini, tak kalah kontroversial dengan nama Si Cantik yang ia berika pada puteri keempatnya yang memiliki rupa seratus delapan puluh derajat berbeda dengan ketiga kakaknya.

“Pelacur paling tidak tak membuat orang harus punya gundik, sebab setiap kau mengambil gundik, kau mungkin menyakiti hati seseorang yang adalah kekasih gundik itu. Sebuah cinta dihancurkan dan sebuah kehidupan diporakporandakan setiap kali seorang lelaki menyimpan seorang gundik. Tapi seorang pelacur paling banter menyakiti seorang istri yang jelas-jelas sudah dikawini, dan adalah kesalahannya membuat suaminya harus pergi ke tempat pelacuran.”-Dewi Ayu

Berlatar belakang sejarah, novel ini menghadirkan tokoh-tokoh central pemegang kekuasaan. Pria-pria yang punya nama dan kekuasaan yang tentunya terlibat dengan wanita-wanita cantik di Halimunda.

Tak ada bedanya perang maupun bisnis,”kata Sang Shodancho membuka rahasia, “Keduanya dikerjakan dengan sangat licik.”

Shodancho sang grilyawan. Maman Gendeng sang jawara. Kamerad Kliwon seorang pimpinan komunis. Semuanya punya kisah sendiri-sendiri di buku ini. Penokohan yang luar biasa sempurna.

Setiap bab bercerita mengenai tokoh-tokoh itu, yang selalu mengejutkan saya dengan alur yang dibuat. Ini kalau seorang filsafat bikin novel kelewat edan ya. Dialog-dialognya pun ga kalah mengagumkan dan membuat tercengang dan bernuansa politik.

Kaum pribumi adalah orang-orang paling malang, semalang-malangnya. Setelah bertahun-tahun hidup dibohongi raja-raja, tiba-tiba datang orang-orang Eropa. Mereka yang bahkan tak mengenal rasa gila hormat menjadi berlebihan di tanah Jawa. Petani-petani, setelah harus kerja paksa dan memberikan sebagian hasil panennya pada pemerintah kolonial, mereka bahkan harus pula berjongkok di jalan hanya karena seorang noni Belanda lewat. Komunis lahir oleh satu mimpi indah bahwa tak akan ada lagi yang seperti itu di muka bumi, tak ada lagi orang malas yang makan enak sementara yang lain kerja keras dan kelaparan. Kliwon bertanya, apakah revolusi merupakan jalan menuju mimpi indah tersebut.

“Itu benar,’ jawab Kamerad Salim,”orang-orang tertindas hanya memiliki satu alat untuk melawan: amuk, dan jika aku harus memberitahumu, revolusi tak lebih amuk bersama-sama, diorganisir oleh sebuah partai.”

Komunis yang identik tak berTuhan, ketika mempertanyakan Tuhan sempat disinggung dibuku ini.

“Bukan urusan manusia memikirkan Tuhan itu ada atau tidak, terutama jika kau tahu di depanmu manusia satu menginjak manusia yang lain.”-Kamerad Salim

Sang Sodancho terlibat cinta dengan salah satu anak Dewi Ayu, Alamanda namanya.

“Cinta itu seperti iblis, lebih sering menakutkan daripada membahagiakan. Jika kau tak mencintaiku, paling tidak bercintalah denganku.”-Shodancho

Peperangan, pertempuran, pembantaian, dan pengkhianatan menjadi bumbu yang memperkaya buku ini.

“Sehebat apa pun kau menguasai teknik gerilya, itu omong kosong jika menghadapi musuh yang mengenal dengan baik medan peperangan.”-Shodancho

“Penghianat tetaplah pengkhianat”kata Maman Gendeng

Siapakah Krisan? bagaimana tokohnya dibuku ini? hingga ia bisa berdialog seperti ini?

“Ada dua jenis perempuan yang bisa dicintai seorang lelaki: pertama perempuan yang dicintai untuk disayangi, kedua perempuan yang dicintai untuk disetubuhi.” -Krisan

Baca saja bukunya. Ga akan menyesal.

Bingung beli buku dimana? Di sini saja.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 9 =