Perjalanan Panjang ke Kampung Urug, Kampung Adat di Bogor

kampung adat urug16

Mobil kami bertolak meninggalkan Darmaga, bersama udara yang masih sejuk dipukul 7 pagi di awal bulan Maret 2017. Berbekal informasi dari salah satu kawan, kami hendak mengunjungi Kampung Urug, yang merupakan Kampung Adat di Kabupaten Bogor.

Kampung Urug berlokasi di Desa Kiarapandak, Kecamatan Sukajaya, Bogor. Untuk sampai ke kampung ini kami melewati jalur Darmaga-Leuwiliang-Cigudeg. Tepat setelah Situ Cigudeng dan SMA 1 Cigudeg, kami berbelok ke arah kiri. Persimpangan ke arah Kampung Urug sedikit tersamaarkan, cirinya adalah Indomart. Kalau ragu, bertanya saja, masyarakat setempat akan senang hati menjelaskannya.

Berdasarkan informasi dari tukang parkir di persimpangan, kami hanya perlu lurus saja dan berbelok ke arah kiri ketika bertemu dengan Pos Polisi.

“Kita lurus aja tar ketemu pos polisi belok kiri.” jelas saya ke Arma yang kala itu menyetir

“Oke” jawabnya singkat

Makin lama jalan yang kami lewati semakin berkelok. Bahu jalan yang sempit membuat perjalanan harus ekstra hati-hati. Jalanan yang sesekali berlubang, tak kalah membuat waspada. Saya, Noe, dan Nurul yang duduk dibangku belakang ikut tegang melihat jalan yang kian sempit. Hingga pada saat tanjakan tajam..

“Mundur lagi aja mundur.” intruksi Gembul ke Arma

“Iya salah masuk gigi nih.” ungkap Arma

Kami para wanita ga kalah heboh nyuruh mundur. Karena melihat didepan dan belakang sudah mulai bermunculan kendaraan lain.

Setelah melewati tanjakan, perjalanan kami lanjutkan dengan lancar hingga bertemu perkebunan kelapa sawit.

“Ini kita ga salah jalan kan ya? tanya aja tuh sama tukang mie ayam didepan.” beberapa dari kami mulai ragu dengan jalanan yang dilewati karena tak kunjung tiba di Kampung Urug.

“Bener kok, tar didepan ada papan petunjuk jalan belok kiri ke arah Kampung Urug.” intruksi Noe setelah bertanya pada penjual mie ayam, yang jadi menu makan siang kami kelak.

Akhirnya kami memasuki kawasan Kampung Urug setelah hampir 3 jam menempuh perjalanan. Pencarian kokolot pun dimulai.

“Bu, kalau rumah kokolot dimana ya?”

“Kokolot yang mana?”

Saya sempat terdiam sejenak dan bertanya dalam hati, “memang ada berapa kokolot?”

“Abah Ukat bu? dimana ya rumahnya?”

“Oh dibawah Neng, nanti ada Gedong, nah itu rumahnya.”

“Oh ya bu, emang ada berapa kokolot di sini?” selidik saya

“Tiga Neng, ini juga rumah kokolot.” jelas seorang ibu sambil menunjuk rumah disamping mobil kami terparkir.

“Oh gitu bu, makasih ya bu. Sama ini minta tolong titip mobil parkir di sini.”

“Iya Neng. Silahkan.”

Usai percakapan kami berjalan kaki mencari rumah gedong. Diotak saya rumah gedong adalah rumah besar dan mewah yang mencolok diantara rumah-rumah yang lain. Karena kata “Gedong” dalam bahasa Sunda berarti “Besar”. Belakangan saya baru tahu jika itu sebutan untuk rumah yang ditempati Abah Ukat, rumah besar peninggalan leluhur dengan filosofi yang cukup unik.

Bagian samping rumah gedong kampung urug_5069
Bagian Samping Gedong, Foto oleh Arma
interior rumah gedong kampung urug_625
Bagian dalam Gedong Kampung Urug

Kepada orang-orang yang sedang duduk-duduk dipelataran rumah besar bercat hijau tua dan kuning, kami sekali lagi bertanya dimana rumah Gedong.

“Ini rumahnya teh, masuk aja dari belakang.” seorang bapak menyuruh kami masuk melewati pagar menuju arah belakang.

“Assalamualaikum, permisi” kami mengucap salam dan menunggu seseorang yang kiranya mendengar salam kami

“Waalaikumsalam”

“Ibu, Abah Ukat ada?”

Kami dipersilahkan masuk dan duduk. Tak lama Abah Ukat muncul dan menyalami kami.

Abah bertanya asal dan tujuan kami datang.

“Ini bah kita mau main saja, mau tau kampung Urug seperti apa?”

Abah kira kami adalah mahasiswa-mahasiswa yang hendak penelitian, layaknya mahasiswa-mahasiwa lain yang biasa datang kesana. Abah mempersilahkan kami bertanya tentang Kampung Urug.

Abah menjelaskan bahwa masyarakat Kampung Urug merupakan oleh keturunan Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran. Menurut catatan yang Abah tunjukan kepada kami, Prabu Siliwangi beberapa kali “tilem” atau menghilang, dan berakhir muncul di Kampung Urug ini.

Kami juga bertanya, mengenai rumah tempat kami berada saat itu, rumah Abah tepatnya. Mengapa bentuknya begitu unik, tradisional, dan terkesan megah.

Kampung urug_662
Bangunan unik di Kampung Urug, penanda jalan Hakekat

Abah bercerita bahwa Gedong, sebutan untuk rumah yang ditempati Abah bukan rumah asal-asalan. Gedong memiliki filosofi dari setiap ukuran bangunannya. Ukuran tersebut menyiratkan bulan, hari, rukun iman, jumlah hari dalam seminggu, rukun islam bahkan angka satu sampai sembilan.

Rumah ini juga diisi bukan oleh orang sembarangan. Mereka haruslah keturunan dari Prabu Siliwangi yang menjadi kokolot berdasarkan wangsit. Menurut Abah, rumah ini nantinya akan diwariskan ke anak laki-laki Abah, tergantung petunjuk atau wangsit yang  akan dia dapat.

Leuit kampung urug_671
Leuit Masyarakat Kampung Urug

Masyarakat Urug rata-rata adalah petani. Tak heran jika masih banyak “leuit” atau lumbung padi tersebar diantara pemukiman-pemukiman warga yang sudah modern. Varietas padi yang ada di sana cukup banyak, ada lebih dari sepuluh. Mereka pun panen dua kali dalam setahun.

Sawah kampung urug_672
Padi  yang baru ditanam

Usai mendengarkan cerita dari Abah, kami pamit untuk berkeliling Kampung Urug dan melihat-lihat sawah. Kampung Urug cukup padat penduduknya, terlihat dari rumah mereka cukup berhimpitan, sehingga kami keluar masuk gang kecil untuk sampai ke sawah.

Bukan foto prewedding_727
Bukan foto Prewed
pematang sawah di kampung urug_677
Panorama dari Sawah masyarakat Urug

Jalan ke Kampung Adat mana lagi ya?

Mari berkelana, Bahagia!

*foto cover oleh Nurul

7 comments

  1. kalo untuk mahasiswa yang melakukan penelitian dikenanakan biaya ga ? dan abah ukat nya welcome ga sama pendatang ? terimakasih hehe oia apa saja ya yang gaboleh dilakukan disana ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 9 =