Pendakian Gunung Papandayan: Ketika Semesta Berbaik Hati

Treking Papandayan

Akhirnya naik gunung lagi. Setelah setahun lebih absen dari dunia pendakian dan perkelanaan.

Waktunya untuk kembali. 🙂

“Teh lu udah pernah ke Papandayan?” tanya adek saya

“Udah, tapi kalau lu mau ke sana gue ikut.”

Setelah bertanya sana-sini bagaimana kondisi cuaca di gunung awal bulan Oktober 2017, akhirnya kami berenam memutuskan untuk berangkat juga ke Papandayan. Meskipun dengan resiko bakalan kena hujan saat pendakian. Beruntung salah seorang teman yang baru saja balik dari Papandayan, menjelaskan kondisi terkini. Kondisi Papandayan aman terkendali, hanya kabut saja yang tak terkendali yang kadang naik turun sesuka hati. Selain itu, hujan biasa datang di pukul 3 sore.

Jam sepuluh malam menjadi waktu yang kami sepakati untuk bertemu di Terminal Kampung Rambutan. Karena kami hendak menggunakan bus terakhir menuju Garut sekitar jam 11 malam. Kami berniat untuk mendaki menjelang siang hari dengan harapan tak terkena kabut maupun hujan.

Bus melaju dengan tersendat malam itu, macet dimana-mana, kami tiba Pukul 05.30 WIB di terminal Guntur, Garut. Tentunya dengan kondisi tubuh yang letih dan perut keroncongan.

Kami memilih beristirahat, sarapan, dan mencari logistik di sekitar terminal. Menurut informasi ibu penjual nasi uduk, ada pasar yang menjual sayur-sayuran di dekat terminal. Dasar naluri wanita, kalau liat sayur segar dan bawang merah gede-gede, bawaannya pengen ngeborong. haha

Sekitar pukul tujuh, kami meninggalkan Terminal Guntur dengan menggunakan mobil angkot menuju Cisurupan. Pagi itu masih sedikit orang yang hendak ke Papandayan. Mereka yang satu mobil angkot dengan kami rata-rata pergi ke Cikuray.

Kami pun memutuskan menggunakan jasa ojek untuk sampai ke Camp. David. Jalanan yang berliku sekarang memang lebih baik kondisinya, tapi kabut dipagi hari yang begitu tebal tetap membuat ketar-ketir.

Tiket untuk menginap sudah kami bayar, lapor ke pos pendakian sudah pula kami lakukan. Waktunya menata diri dan bawaan untuk melakukan pendakian. Dasar kami yang memang anaknya santai, bukan buru-buru jalan biar ga kesorean, malah duduk-duduk di warung sambil seruput kopi dan teh manis hangat. Emang udah paling hakiki deh, dingin-dingin minum yang anget-anget.

Waktunya mendaki, kami tak mau terkena hujan di jalan. Menurut info dari penduduk setempat hujan turun sekitar sore hari. Jadi jika jalan santai dan sangat santai 3 sampai 4 jam kemudian kami baru bisa sampai di Pondok Salada tempat biasanya untuk menginap.

“Yuk, kita jalan udah mau jam sebelas nih. males kalau kena hujan dijalan.” Ajak saya

Our Team at Papandayan
Foto dulu lah sebelum mendaki (Saya, Ajat, Rifqi, Ika, Yayat, Lukman)

Kami berdoa untuk meminta perlindungan, keselamatan, dan cuaca yang cerah selama kami pendakian hingga kembali pulang ke rumah dengan selamat.

Menjadi wanita satu-satunya dalam pendakian membuat saya selalu menjadi yang kedua dari belakang. Tapi tetap menyenangkan, karena saya bisa mengambil gambar sesuka hati saya.

Mari mendaki papandayan
Resiko jadi tukang foto dan paling bontot kalau jalan 🙁

Jalur pendakian sudah jauh lebih rapih dari terakhir kali saya ke tempat ini. Petunjuk arah juga sudah lebih banyak. Pos-pos pendakian dan warung-warung tenda juga menjamur. Kondisi yang ramah untuk pendakian diakhir pekan dan bagi orang yang baru pertama kali mendaki.

Pos-pos pendakian papandayan
Pos-pos pendakian Papandayan

Suara motor beberapa kali saya dengar sepanjang mendaki. Motor-motor tersebut ternyata porter-porternya Gunung Papandayan. Mereka melewati medan berat membawa barang-barang bawaan para pendaki yang tak mau membebani punggung mereka.

Porter gunung Papandayan_
Porter Gunung Papandayan
Jalur menuju Ghober hut
Jalan terus sampai Ghober Hut

Pukul setengah dua siang kami tiba di Ghober Hut yang merupakan area berkemah juga. Posisinya sebelum Pondok Salada. Menurut petugas, kalau mau lihat sunrise-nya Papandayan ya ditempat ini.

Tergiur dengan sunrise, awalnya kami ingin bermalam ditempat ini. Tapi kondisi yang sepi dan kemungkinan mendapat sunrise sangat tipis karena kabut yang tebal, kami urung bermalam di Ghober Hut.

Kaka Beradik di Papandayan
Kaka Beradik di Ghober Hut (Foto oleh Lukman)

Tak lama hujan turun. Beruntung kami bisa berteduh di warung tenda yang tak jauh dari Ghober Hut. Hingga hujan sedikit reda, baru kami melanjutkan pendakian ke Pondok Salada yang memakan waktu kurang lebih 20 menit dari tempat ini.

Saya takjub dengan kondisi Pondok Salada. Ada mushola, ada toilet, ada tenda besar, ada warung-warung tenda. Wow, lengkap.

“Ini sih gue bawa diri aja.” membatin dalam hati

Warung-warung di Pondok salada_
Warung-warung tenda di Pondok Salada
Toilet-toilet di Papandayan
Ada Toilet di Pondok Salada, Berani mandi?

Hujan kemudian turun lagi dengan lebih deras tepat saat tenda kami selesai bediri. Malam beranjak berselimutkan udara yang menusuk sampai ke tulang.

Memasak makan malam, menyeduh kopi, teh, susu, kami lakukan untuk mengusir dingin. Hingga mata meminta jatahnya untuk terpejam dan mimpi indah menyapa dimalam-malam yang sepi.

***

Pagi hari saya selaku wanita sendiri dipendakian kali ini, sibuk mengurus perihal dapur.

“Ya udah kalian muter-muter lah main-main, gue udah pernah. Yang belum liat edelweis lihatlah. Biar gue yang masak.” saya menawarkan diri

Rasa rindu saya dengan gunung terobati hari itu. Gunung selalu memberi damai dihati saya. Meskipun di gunung saya hanya duduk-duduk didalam tenda saja.

“Nih makanan kudu abis ya. Gue ga mau tau.” ancam saya

“Ya kalau ga abis dibungkus ajalah buat tar di Tegal Alun.” pinta para lelaki ini

“Nih, buat makan siang di sana gue mau bikin mie goreng.” saya menjawab

Menghitung kira-kira akan jam berapa sampai di Tegal Alun kemudian turun lagi ke Pondok Salada. Saya sibuk dengan urusan perut. Jangan sampai lapar di jalan dan ga sempat makan siang.

“Teh, bawa ajalah nih tas ke Tegal Alun terus turun Hutan Mati. Biar ga bolak-balik” saran adik saya

“Ogah gue, udah pernah, ga tahan ma tanjakan mamang. Udah titip aja, lagian klo bisa titip ngapain bawa-bawa beban ke atas terus bakalan dibawa turun lagi.” saya mengusulkan

Kami kemudian berbagi tugas. Saya memasak, dan para lelaki ada yang membongkar tenda, packing, dan menitipkan barang di Pos jaga.

Beruntung Bapak pos jaga baik hati mau dititipi barang kami yang segambreng.

“Pak, kami ke Tegal Alun boleh kan?” tanya saya

“Tiket cuma sampai Pondok Salada. Tegal Alun sudah bukan kawasan yang kita kelola. Jadi kalau ada apa-apa itu bukan tanggung jawab kami.” jawab bapak di Pos jaga

“Di sana ada petunjuk jalannya kan pak? banyak orang kesana?” saya mengorek informasi

“Tadi sih saya lihat banyak yang ke sana. Hati hati saja, liat cuaca.” saran bapak Pos jaga

Jujur, saya rindu dengan taman edelweis. Jadi memang tujuan saya ke Papandayan hendak ke Tegal Alun.

Saya mencoba menjelaskan ke teman-teman perihal obrolan saya dengan petugas Pos jaga. Berbekal ingatan saya tiga tahun silam, akhirnya kami bergegas menuju Tegal Alun. Kami berdoa, semoga semesta berbaik hati.

Hutan mati Papandayan_
Hutan matai sebelum kabut turun

Sampai di Hutan mati, petunjuk arah ke Tegal Alun tidak terlihat. Kabut pun turun sangat tebal. Saya mulai was-was.

“Ini kabutnya tebel banget loh. Petunjuk jalannya ga ada. Seinget gue sih belok ke kanan. Terus ke atas.” jelas saya kepada teman-teman

“Ya udah naik aja teh cari petunjuk.” jawab mereka yang penasaran dengan Tegal Alun

“Eh, itu ada dua orang. Kita tanya saja.”

Berharap pada dua mas-mas yang sedang duduk dikayu-kayu mati untuk menunjukan jalan, ternyata hal itu sia-sia. Mereka juga tidak tahu jalan. Malahan mereka tertinggal dari rombongan.

Kami bersepakat untuk mencari jalur dan tanda-tanda jejak terbaru. Ada pita-pita berwarna putih dan oranye disepanjang jalur menuju Tegal Alun. Beruntung kami pun berpapasan dengan sesama pendaki yang memberitahu arah.

“Depan tanjakan mba.” seseorang memberi tahu medan

“Tanjakan mamang.” jawab saya

Mereka terlihat bingung dengan jawaban saya. Ternyata, papan bertuliskan Tanjakan Mamang pun telah sirna.

Baca :Papandayan: Obrolan Warung Kopi ala Pendaki

Tuhan Maha Baik, semesta sedang berbaik hati terhadap kami. Tegal Alun yang sepi hanya milik kami berdelapan. Yup, gunung memberi kami kawan baru yaitu Musfian dan Habib.

Tegal Alun
Dari enam menjadi delapan di Tegal Alun
Padang Edelweis Tegal Alun
Padang Edelweis Tegal Alun (Foto oleh Yayat)

Turun dari Tegal Alun kami kembali ke Pondok Salada. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Hutan Mati dan turun ke Camp.David. Alhamdulillah kabut yang datang silih berganti dan hujan yang datang tepat waktu tak menghalangi pendakian ini. Pendakian perdana saya setelah melepas status sebagai mahasiswa.

Papandayan 2017
Mari pulang dengan selamat ke rumah 🙂

Terima kasih semsta 🙂 🙂

Transportasi dan Akomodasi

Terminal Kp.Rambutan- Terminal Guntur 55K/org

Terminal Guntur-Cisurupan 25K/org

Cisurupan-Camp. David 25K/org

Tiket Simaksi 65K/org

Logistik kelompok 50K/org

Porter (Camp.david-Pondok Salada) 300K/PP

Waktu Mendaki Papandayan:

Camp.David-Pos 7: 1 Jam 15 menit

Pos 7- Ghober Hut/ Hober Hoet: 1 Jam

Ghober Hut- Pondok Salada: 15-30 menit

Pondok Salada-Tegal Alun: 1 Jam

Tegal Alun-Pondok Salada: 1 Jam

Pondok Salada-Hutan mati-Camp. David: 2 Jam

Note:

Tegal Alun merupakan Kawasan Konservasi. Jadi jangan ambil apapun dan meninggalkan apapun di sana. Apalagi sampah.

Saran saya sih, kalau mau ke Tegal Alun, minimal ada kawan satu Tim yang sudah mengenal jalurnya. Minimal sudah pernah lah kesana sebelumnya. Karena keselamatan nomor satu. 🙂

Mari Berkelana, Bahagia!

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 4 =