Catatan Juang: Menyentuh Hati Yang Paling Dalam

Catatan Juang

Buku “Catatan Juang” seakan tahu isi hati saya.

Catatan Juang seperti memeperlihatkan bagian-bagian hidup saya, bagian-bagian mimpi saya, bagian-bagian yang saya sembunyikan jauh dalam hati. Apakah ini sebuah konspirasi alam semesta?

Buku ini jatuh ditangan saya diwaktu yang tepat dan menyentuh hati saya yang paling dalam. Mempertanyakan lagi apa yang sebenar-benarnya ingin saya lakukan. Haruskah menyerah untuk sesuatu yang saya perjuangkan selama delapan tahun belakang ini?

Catatan Juang yang merupakan buku ketiga dari Fiersa Besari tuntas saya baca sore ini. Ditemani rintik hujan di Kota Bogor dengan hati saya yang masih terluka. Karena cinta? Jelas. Tapi bukan pada seseorang melainkan pada sesuatu. Bukankah cinta itu universal?

Cinta adalah harapan yang membuat segala yang tidak mungkin menjadi mungkin. Cinta adalah pemutus keputusasaan. Cinta adalah apa  yang semestinya membuat bumi ini berputar. (hal. 299)

Cinta memang tak butuh alasan, tapi sebuah komitmen butuh alasan. (hal.84)

Komitmen berarti komunikasi. Komitmen berarti mementingkan satu sama lain di atas ego kita sendiri. (hal. 84)

Seperti Kasuarina atau Suar, Sang sosok utama yang merasakan betapa kuat pengaruhnya sebuah catatan dari seorang Juang dihidupnya. Saya pun merasa demikian. Bung, sapaan untuk Fiersa Besari, berhasil menularkan energi positif pada saya selaku pembaca.

Terkisah Suar, seorang wanita yang memiliki mimpi menjadi sineas namun harus menghadapi kenyataan terjebak dalam rutinitas sebagai sales asuransi di sebuah Bank. Mimpinya harus ia kubur lantaran Sang Ayah jatuh sakit. Ia berinisiatif untuk menjadi tulang punggung keluarganya, meskipun sebenarnya Sang Ayah tak pernah meminta hal yang demikian.

Hidup Suar berubah ketika suatu hari ia menemukan sebuah buku catatan berwarna merah yang terjatuh di angkutan umum yang sedang ia tumpangi. Bermaksud mencari tau si empunya buku, Suar terjebak dalam kisah-kisah Juang yang merubah jalan hidupnya.

Hidup ini keras, buktikan dirimu kuat. Yang membedakan pemenang dan pecundang hanya satu: pemenang tahu cara berdiri saat jatuh, pecundang lebih nyaman tetap ada di posisi jatuh. (hal. 44)

Masih mau jadi pecundang? masih mau menangis? Ya ga apa-apa nangis aja dulu. Kata Juang, “menangis tandanya kita hidup.”

Sekuat itukah sebuah catatan mengubah hidup orang lain. Saya kira demikian. Seseorang bisa menjadi berani karena terinspirasi. Itu yang secara tidak langsung Juang torehkan dalam catatan-catatannya. Sebuah kisah yang membuat kita berfikir apakah hidup hanya sekedar numpang lewat saja di Bumi? Apakah impian hanya datang bak bunga tidur yang tak perlu kita hiraukan? Apakah semua peristiwa yang terjadi tak pernah punya makna?

Jangan lupa bahwa manusia mempunyai mimpi-mimpi untuk diraih, bukan dibunuh atas nama tuntutan hidup. Dan jangan lupa bahwa Tuhan menciptakanmu berjalan di muka bumi ini untuk sesuatu yang baik, maka berbuat baiklah untuk sesama, melebihi kau berbuat baik untuk dirimu sendiri. (hal. 173)

Kisah hidup Suar seolah terkoneksi dengan catatan-catatan Juang. Hingga Suar menyebut buku merah tersebut sebagai “Obat Kuat”.

Buku ini memiliki kisah yang kaya, memiliki kegelisahan akan banyak hal. Impian, cinta, keluarga, kondisi lingkungan, kondisi politik, kondisi media sosial dan anak muda masa kini khas Sang penulis. Buku ini membahas hal yang kekinian, namun mencoba meresapi hari-hari yang telah lalu sebagai sejarah yang harus dipelajari.

Orang pandai takkan memaksakan keyakinannya pada orang lain; orang yang pandai akan menerima perbedaan dan mampu berjalan beriringan dengan mereka yang tidak berprinsip sama. (hal.144)

Ibarat buku motivasi, “Catatan Juang” tidak perlu menggunakan kalimat yang menggebu-gebu untuk menyampaikan semangat dan menggerakan hati manusia. Ia cukup menunturkan kegelisahannya dengan kalimat-kalimat halus yang diam-diam menelusup kalbu dan terpatri dalam ingatan.

Saya bingung harus berkata-kata apalagi. Buku ini memberi gambaran bagaimana menikmati hidup. Saya suka buku ini dan menyukai kutipan-kutipan kalimat ini:

Dan untukmu yang baru saja akan mulai menulis, selalu ingat ini: menulis adalah terapi. Dan kita tidak perlu melakukannya agar terlihat keren dihadapan orang lain, atau berekspektasi punya buku yang diterbitkan penerbit besar. Menulis adalah sebuah kebutuhan agar otak kita tidak dipenuhi oleh feses pemikiran. Maka, menulislah. Entah itu di buku tulis, daun lontar, prasasti, atau bahkan media sosial, menulislah terus tanpa peduli karyamu akan dihargai oleh siapa dan senilai berapa. Menulislah meski orang-orang mengejekmu. Menulislah agar kelak saat kau meninggal, anak-cucumu tahu bahwa suatu ketika engkau pernah ada, pernah menjadi bagian dari sejarah. (hal. 198)

Tak usah takut di bully, karena

Pembenci adalah pengagum yang sedang menyamar. (hal. 203)

Bagi kalian yang suka dengan romantisme. Buku ini cukup romantis karena melibatkan cinta dua anak manusia Kasuarina dan Dude Ginting. Nih, cuplikan percakapan mereka:

“Kalau aja enggak ada kerjaan, aku pasti senang tinggal lama di sini,” ujar Suar

“Engga usah terlalu lama. Nanti aku merasa berdosa karena udah cinlok di kawasan cagar alam,” ucap Dude.

Lalu, bagaimana akhirnya buku catatan merah ini bermuara? apakah Kasuarina bisa bertemu Juang.

Baca saja selengkapnya dibuku Catatan Juang. 🙂

Baca Juga: Garis Waktu: Quote Ala Fiersa Besari dan Konspirasi Alam Semesta: Ketika Kata dan Nada Berpadu Mesra

Dan bukankah harta yang paling tak ternilai adalah persahabatan? Ketika seseorang yang tak kukenal membaca tulisanku, lalu merasakan apa yang ku sampaikan, aku telah bersahabat dengannya. (hal. 29)

Jadi, kita bersahabat ya Bung 🙂

Seiring bertambahnya usia, makin aku menyadari bahwa fisik yang rupawan akan selalu kalah dengan perbincangan yang menyenangkan. (hal. 223)

Mari berkelana lewat kata!

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + 8 =