[Review] Arah Langkah-Karya Teranyar Fiersa Besari

Arah Langkah

Satu kata untuk buku Arah Langkah ini “BAHAYA”

Arah Langkah merupakan buku keempat dari Fiersa Besari yang baru saja rilis di awal Bulan Mei 2018. Buku-buku karya Fiersa Besari memang selalu saya tunggu dan tak kelewatan pula untuk pre order.  Saya selalu dibuat penasaran, kisah apa lagi yang akan dituangkan dalam bukunya kali ini. Setelah sebelumnya berhasil membuat saya jatuh hati dengan Konspirasi Alam Semesta, Garis Waktu, dan terakhir Catatan Juang, kali ini Arah Langkah membuat saya mabuk kepayang. Kemudian berkesimpulan jika buku ini Bahaya untuk jiwa yang sedang meradang.

Bahayanya dimana?

Bagi kalian yang memiliki cita-cita untuk bisa menjejakan kaki disetiap inci dari negeri yang bernama Indonesia. Buku Arah Langkah ini akan semakin membangkitkan keinginan itu, cita-cita itu, yang kadang ingin diwujudkan tapi terkadang ingin dikubur dalam-dalam saja saking ketinggian.

Di buku kali ini, Bung menceritakan dirinya sendiri, kisahnya sendiri, bukan Juang dan Ana, bukan tokoh aku dan kamu, atau Kasuarina dan Dude Ginting. Arah Langkah berbicara bagaimana ‘Patah Hati’ bisa membuat seorang Fiersa Besari Berkeliling Indonesia. Edan kan? Ini sih harus berterima kasih banget sama yang bikin patah hati. 🙂 🙂

Buku setebal 304 halaman dengan jumlah bab kurang dari sepuluh. Setiap bab diakhiri gambar-gambar petualangan Bung dan ada yang terlihat berbeda pada setiap judulnya. Judul dari setiap Bab hanya terdiri dari satu kata, kemudian ditulis dalam format seperti kamus. Contahnya seperti ini.

KAUSA

(n) sebab yang menimbulkan suatu kejadian

SWABAKAR

(n) kemampuan untuk mengeluarkan api sendiri

Unik kan?

Selain itu, cerita-ceritanya pun ditulis dengan Bahasa Indonesia yang baku. Banyak padana kata  dalam Bahasa Indonesia yang muncul di Arah Langkah. Jadi memperkaya kosakata nih. Istilah-istilah yang digunakan pun memiliki catatan kaki, untuk kita dengan mudah memahami.

Arah Langkah bercerita untuk dua kejadian, saat ini dan masa lalu. Jadi seolah ada momen flashback gitu. Dari segi tampilan dan tata bahasa pun, terlihat sekali bahwa Bung semakin berkembang dalam kepenulisan.

Layaknya memoar, Arah Langkah bercerita tentang perjalanan Bung berkeliling Indonesia yang ia mulai dari pulau paling barat Indonesia, yaitu Sumatera. Ia yang sebelumnya telah memutuskan keluar dari pegawai kantoran, mengejar passion dibidang musik, jatuh hati pada seseorang bernama Mia, mengumpulkan rupiah demi menikahi Sang pujaan hati, kemudian harus rela dikhianati oleh sahabatnya sendiri.

Kesalahan besar yang ditanyakan para orang tua ketika anaknya lulus kuliah adalah, ‘Mau bekerja di mana?’ bukan ‘Mau membuat apa?'”- hal 36

Cinta memang buta aksara, maka dari itu, butuh komitmen dua anak manusia untuk menjadikannya mengeja.-hal 32

Ketika tinta pengkhianatan tumpah di atas aksara kisah, tulisan kau dan aku tak lagi bisa terbaca. Takkan pernah lagi bisa.-hal 69

Pertemuannya dengan Prem, seorang gadis tomboy dan menggemari petualangan yang juga memiliki keinginan sama untuk keliling Indonesia membawa mereka pada petualangan yang banyak mengubah hidup. Mereka tak pergi hanya berdua, tapi bertiga. Ada sosok laki-laki yang bernama Baduy turut serta didalamnya. Baduy adalah kawan dari kawannya Prem. Haha ribet ya? begitulah pertemanan kadang terbentuk.

Aku pernah bertanya pada Prem seperti apa rasanya berada di puncak gunung. Ia hanya menyuruhku untuk merasakannya sendiri. Ternyata, seperti inilah rasanya. Di ketinggian, aku merasa kecil. Aku merasa tidak menaklukan gunung, justru gununglah yang menaklukan kesombonganku.-hal 183

Bertiga, mereka bertolak dari Bandung menuju Pelabuhan Merak, kemudian melintasi laut menuju Pelabuhan Bakahueni. Mereka mencoba peruntungan untuk bisa menumpang kendaraan orang lain agar bisa menghemat biaya. Betapa mereka sangat terbantu dengan teknologi tergambar dibuku ini. Twitter membantu Bung untuk bertemu kawan-kawan baru, pengalaman baru, dan tentunya tempat-tempat baru. Jadi bisa paham yang kalau baik buruk media sosial tergantung penggunanya. 🙂 🙂

Membaca buku Arah Langkah serasa lagi berkeliling Pulau Sumatera hingga ke Pulau Sulawesi, merasakan apa yang Bung, Prem, dan Baduy alami. Membaca obrolan-obrolan ketiganya, dengan masyarakat setempat, dengan kawan-kawan lama di dunia maya namun baru di dunia nyata, atau monolog dari Bung yang masih berkutat dengan rasa sakit, menunjukkan mereka belajar dari apa yang telah mereka alami. Serta mengetahui jika Bung pernah segila itu, ga heran juga sih jika bentukannya jadi seperti sekarang. Pengalaman ga dusta ya Bung. 🙂

“Kita gila ya, bisa berkelana sejauh ini.”

Prem terkekeh. “Berkelana itu engga gila. Yang gila itu kalau kamu di rumah padahal hati memanggil kita untuk berkelana.”- hal 150

Berpetualang tak hanya melihat keindahan alam saja, namun juga kenyataan jika kadang kita menemukan sisi lain dari kawan kita, bahkan perselisihan pun pasti ada. Ini mah fakta, sering mengalami juga 🙂

Malam ini, aku melihat sisi lain Baduy, sisi yang sangat mengagumkan. Darinya, aku belajar bahwa hidup ini menyenangkan kalau kita melihat dari sudut pandang yang tepat. Bahagia cuma akan menjadi rumit kalau kita terlalu tinggi berharap.- hal 207

Perjalanan ini juga mempertemukan Bung dengan perempuan unik, bertato dua tokok kartun, yakni spongbob dan patrick dilengannya. Perempuan itu bernama Swarandee.

“Kenapa tokoh kartun? Filosofinya apa?”

“Saya suka dua karakter itu, Bung. Mereka bersahabat dengan tulus tanpa ada motif tertentu. Jatuh bersama, tanpa saling menjatuhkan. Bodoh bersama, tanpa saling membodohi. Jarang sekali ada persahabatan macam itu di dunia nyata.”-hal 264

Kemudian, ada sosok Ikar yang terlibat banyak perbincangan dengan Bung. Mereka pada akhirnya menginspirasi satu sama lain.

“Kamu luar biasa, Kar. Semoga aku bisa mengikuti jejakmu berhenti merokok dan minum-minum.”

“Ya. Begitu, dong. Kita engga akan pernah tahu kapan napas terakhir kita berhembus dan kapan kita meregang nyawa. Sudah saatnya kita belajar bersyukur. Tidak perlu dengan melakukan hal hebat. Cukup dimulai dengan menyayangi diri sendiri,”-hal 272

Dari Arah Langkah saya belajar jika langkah pertama menentukan langkah kita berikutnya. Dan jika langkah itu ingin dimudahkan, gunakanlah komunikasi yang baik dengan setiap orang yang kamu temui bahkan tidak kamu temui dalam konteks nyata. Karena satu pertemuan akan menyebabkan pertemuan yang lain. Akan memberimu pengalaman dan kisah yang lain. Buku ini menggambarkan bahwa hal tersakit pun dalam hidupmu, kadang mambawa bahagia dilain waktu. Asal jangan kau tutup mata hatimu. Serap pengetahuan dari semesta yang beri untuk dirimu.

“Yang paling aku senangi dari petualangan adalah: sejauh apapun jalan yang kita tempuh, tujuan akhir selalu rumah.”-hal 235

Bukanlah kenangan buruk yang akan membuat kita bersedih, tapi kenangan terindah yang takkan bisa terulang lagi.- hal 246

Proses setiap orang menemukan dirinya sendiri kadang memang bermacam-macam. Bung menemukannya kala ia patah hati dan bertualang mengelilingi negeri. Paulo Choelho pun melakukan perjalanan panjang untuk menemukannya.

Baca selengkapnya: Aleph: Perjalanan Menjadi Raja di Kerajaanku- Paulo Coelho

Sudah siapkah kau menentukan Arah Langkah hidupmu berikutnya?

karena,

satu-satunya penghalang langkah kita adalah rasa takut kita sendiri- hal 280

Mari berkelana lewat kata dan tentunya semesta 🙂

8 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + 5 =