Megahnya Masjid Raya Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat

Matahari kian condong ke barat ketika saya dan Eva tiba di pelataran Masjid Raya Sumatera Barat. Terletak di jantung Kota Padang, tepatnya di persimpangan Jalan Khatib Sulaiman dan Jalan KH. Ahmad Dahlan, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, masjid ini berdiri kokoh dan megah. Memiliki atap yang menyerupai bagonjong, atap khas bangunan Minangkbau, ternyata arsitektur Masjid Raya Sumatera Barat ini memiliki filosifi yang cukup dalam. Selain itu, masjid ini konon tahan gempa loh.

Masjid Raya Sumatera Barat
Senja dan Masjid Raya Sumatera Barat

Dirancang oleh seorang arsitek bernama Rizal Muslimin, Masjid Raya Sumatera Barat ini terinspirasi oleh tiga simbol, yakni sumber mata air, bulan sabit, dan Rumah Gadang. Selain itu, atap bangunan yang tidak berbentuk kubah layaknya masjid-masjid yang pernah ada, menggambarkan sebuah kain yang digunakan untuk memindahkan Hajar Aswad oleh keempat kabilah Suku Quraisy. Menjadi First Winner of National Architecture Design Competition, bangunan ini mencoba mengkolaborasikan unsur tradisi dengan ajaran agama. Seperti filosofi adat istiadat Minangkabau “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”, artinya “Adat bersandi syariat islam, syariat islam berdasarkan Al-Quran dan Hadits.” Semoga artinya ga salah ya 🙂

Baca juga: 5 tempat wisata Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat
Lampu-lampu Masjid Raya Sumatera Barat

Pada bagian dinding-dinding atap masjid, terdapat berbagai ukiran dan kaligrafi khas Ranah Minangkabau. Disampingnya terdapat menara masjid yang cukup tinggi. Konon jika pengerjaannya sudah selesai, menara itu bisa kita naiki. Masjidnya sendiri terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama merupakan area berwudhu dan toilet, lantai dua merupakan area utama yang terdapat mimbar, dan lantai ketiga merupakan area tambahan untuk jamaah.

Baca juga: Museum Adityawarman

Memasuki area utama Masjid Raya Sumatera Barat, kita akan disuguhkan sebuah pemandangan yang sederhana, tapi menawan. Bagian mimbar dilapisi warna perak dan keemasan, serta bagian langit-langit masjid diisi oleh kaligrafi-kaligrafi dengan lampu-lampu yang simple. Terlihat lowong, masjid ini tak banyak memiliki atribut, bahkan tidak menggunakan berbagai warna untuk menjadikannya indah dipandang mata. Cukup gelaran karpet berwarna merah marun bergaris kuning keemasan.

Interior Masjid Raya Sumatera Barat
Bagian dalam Masjid Raya Sumatera Barat
Desain Interior Masjid Raya Sumatera Barat
Desain Interior Masjid Raya Sumatera Barat

Bangunan masjid yang memang sengaja dibuat tahan gempa hingga 10 SR ini, ternyata tak hanya berfungsi sebagai rumah ibadah, namun juga sebagai shelter evakuasi tsunami. Pantas saja semua lantainya terlihat lowong, seperti barak pengungsian yang mampu menampung ribuan orang. Karenanya, Masjid Raya Sumatera Barat ini pun memiliki daya tampung hingga 20.000 orang. Banyak banget kan?

Saya baru paham, mengapa untuk masuk bagian utama Masjid Raya Sumatera Barat ini, kita harus melewati sejenis jembatan yang cukup tinggi dibagian luarnya, bukan berbentuk tangga, ketika teman saya bercerita banyak perihal fungsi lain masjid ini. Katanya biar memudahkan untuk berlari dan evakuasi.

Masjid Raya Sumatera Barat
Lantai 3 Masjid Raya Sumatera Barat

Mulai dibangun pada tahun 2007, masjid seluas lebih dari 18 hektare ini masih terus dibenahi sampai saat ini. Kebayang ga dananya abis berapa ratus milyaran rupiah, mengingat bagian keseluruhan komplek masjid ini mencapai lebih dari 40 hektar.

Desain pintu-pintu bagian dalam Masjid Raya Sumatera Barat

Baik siang ataupun malam hari, masjid ini tak pernah sepi pengunjung. Banyak diantaranya datang untuk berswafoto bersama masjid yang megah dan cantik ini. Karena harus saya akui, dari masjid ini kita bisa melihat area Kota Padang.

Baca Juga: Bermain Pasir Putih di Pulau Angso Duo, Pariaman

Oh ya, banyak juga loh anak muda yang menghabiskan malam minggu mereka di Masjid Raya Sumatera Barat ini untuk mengkuti kajian rutin atau sekedar nongkrong dipelataran masjid ditemani lampu warna warni.

Jadi, buat kalian yang berlibur ke Kota Padang, jang lewatkan untuk berkunjung ke masjid ini ya 🙂

Mari berkelana, bahagia!

8 comments

  1. Umumnya pada situasi bencana, masjid memang berfungsi untuk tempat pengungsian. Contohnya saja pada bencana banjir. Hebat juga masjid ini kalau bisa tahan gempa hingga 10 skala Richter.

    1. Iya sih kalau yang saya baca emang 10 SR.
      Dari segi bangunannya emang nih masjid agak beda.
      Banyak komponen besi, yang katanya sih ada pegasnya.

  2. Waktu ke Padang dua minggu lalu, sekali lagi aku mampir ke masjid besar ini. Di dalamnya luas sekali dan membuat kita merasa kecil

    1. Iya bener mba, luas banget. Apa lagi pas naik ke lantai paling atas, liat orang-orang dibawah kecil banget.
      Jadi ngerasa butiran debu. hihi

    1. Foto saat sunset Mba. Iya semoga.
      Dan harusnya bangunan di Indonesia juga disesuaikan dengan kondisi geografis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 9 =