Melihat Warisan Budaya Sumatera Selatan di Museum Balaputra Dewa

Main sebentar di Kota Palembang, saya mengunjungi beberapa tempat wisata di sana, seperti Al-Qur’an Al-Akbar Gandus, Museum Balaputra Dewa, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, serta Mesjid Agung Palembang. Nah, setelah sebelumnya saya bercerita mengenai wisata religi Al-Qur’an Al-Akbar, kali ini saya ingin bertutur mengenai salah satu museum yang terkenal di Palembang karena Rumah Limas yang gambarnya tertera diuang kertas sepuluh ribu rupiah. Mari berkeliling museum, kita mencocokan gambar! 🙂

Sejarah Singkat Sumatera Selatan

Cerita sedikit tentang Sumatera Selatan ya.

Sebagai salah satu provinsi di Indonesia, Sumatera Selatan dikenal sebagai Bumi Sriwijaya. Pada zaman dahulu kala Sumatera Selatan adalah lokasi berdirinya Kerajaan Sriwijaya yang merupakan Kerajaan Maritim bercorak Budha dan sangat berpengaruh di Nusantara dari abad ke-7 sampai ke-13 masehi. Kerajaan ini menguasai alur pelayaran dan jalur perdagangan di Asia Tenggara terutama Selat Malaka yang menjadi penghubung antara China dan India.

Selain sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya, ternyata Palembang pernah memiliki Kesultanan Palembang yaitu sekitar abad ke-15. Kesultanan ini mencapai puncak kejayaan pada masa Sultan Mahmud Badaruddin I. Kemudian kesultanan tersebut dihancurkan oleh pemerintahan Kolonial Belanda sekitar abad ke-18.

Jika menengok lagi lebih kebelakang, di Provinsi Sumatera Selatan terutama didataran tinggi Pagaralam dan Pegunungan Bukit Barisan disisi barat, terdapat banyak situs megalitikum yang ditemukan. Setidaknya terdapat 22 situs megalitikum ditemukan di Sumatera Selatan. Sehingga bukti-bukti sejarah tersebut patut untuk terinventarisasikan dengan baik sebagai warisan sejarah dan budaya untuk bisa dikenal generasi berikutnya.

Berdirinya Museum Balaputra Dewa

Museum Balaputra Dewa atau Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan “Balaputra Dewa”, merupakan museum entografi yang dirintis tahun 1977 dan diresmikan pada 5 November 1984. Nama Balaputra Dewa sendiri berasal dari Raja Sriwijaya abad ke-9 dan mantan kepala dinasti Sailendra di Palembang. Museum yang dibangun diatas lahan seluas 23.565m2 berfungsi untuk melestarikan budaya Sumatera Selatan. Berlokasi di Jalan Srijaya I No. 28 Palembang, museum yang pernah direvitalisasi tahun 2011 ini menyimpan 10 jenis koleksi yang tersimpan ditiga ruang pameran.

Koleksi Museum Balaputera Dewa

Museum tampak lengang siang itu, saya bertemu seorang petugas tiket dan diberi sebuah flyer yang berisi informasi mengenai museum. Memasuki museum, saya mendapati sebuah kolam yang ditengahnya terdapat berberapa arca. Saya dan Andar kemudian berjalan kearah kiri melewati selasar.

“Bangunan museumnya mirip Museum Adityawarman di Padang nih. Ada beberapa ruangan terpisah terus ada taman di tengah bangunan. Mirip banget kayak gini!” saya bercerita pada Andar perihal bentuk bangunan museum ini. Saya lupa Andar berkomentar apa saat saya bercerita ini. 🙂

Museum Balaputra Dewa
Koleksi replika arca di Museum Balaputra Dewa
Museum Balaputra Dewa
Selasar Museum Balaputra Dewa

Menurut informasi dari berbagai sumber di google, koleksi museum ini mencapai 3.882 item yang menggambarkan masa Prasejarah, Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang, Kolonial Belanda, pergerakan kemerdekaan hingga koleksi kebudayaan masyarakat saat ini seperti kerajinan dan rumah tradisional. Koleksi-koleksi tersebut ditempat ditiga ruangan utama pameranyang berbeda yaitu, bagian Megalitikum, bagian Kerajaan Sriwijaya, dan bagian Kesultanan Palembang.

Tapi, kami malah memasuki ruangan yang didalamnya terdapat berbagai informasi mengenai persenjataan tradisional di Sumatera Selatan dan koleksi senjatanya tidak ada. Kemudian kami masuk lagi keruangan kecil yang bernuansa merah. Nah, diruangan bernuansa merah ini terdapat informasi mengenai melayu dan ada juga informasi mengenai kebudayaan dari Malaca (Malaysia). Sepertinya ruangan ini baru dan merupakan tambahan koleksi mengenai kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia. 🙂

Museum Balaputra Dewa
Ruangan bernuansa merah di museum

Meneruskan penjelajahan di Museum Balaputra Dewa, ruangan berikutnya yang kami temui adalah ruang yang berisi koleksi zaman megalitikum atau zaman batu besar. Terdapat informasi mengenai kehidupan awal manusia di Sumatera, replika arca-arca, serta artefak-artefak yang menjadi bukti kehadiran manusia dari akhir zaman es sekitar 11.000 tahun yang lalu. Arca-arca tersebut dapat disaksikan secara langsung hingga saat ini di Pasemah wilayah Lahat dan Pagaralam, Sumatera Selatan.

Museum Balaputra Dewa
Salah satu Arca Megalitikum, Koleksi Museum Balaputra Dewa
Museum Balaputra dewa
Hewan-hewan yang ada di Pulau Sumatera

Selain itu, terdapat berbagai peralatan dari batu, rangka manusia, dan informasi mengenai berbagai gua tempat bermukim manusia di masa lalu, seperti Gua Harimau, Gua Putri, dan Gua Pondok Salabe. Terdapat pula replika Gua Putri yang baru terkenal tahun 2002 dikalangan arkeolog yang didalamnya terdapat rangka manusia dan fragmen-fragmen kehidupan manusia di masa lalu.

Museum Balaputra dewa
Replika Goa Putri, tempat bermukimnya manusia di masa lalu

Diruang koleksi lainnya dari Museum Balaputra Dewa saya mendapati berbagai informasi dan benda-benda peninggalan masa Kerajaan Sriwijaya. Temuan arkeologis mengenai Kerajaan Sriwijaya banyak ditemukan di wilayah Sumatera, meskipun beberapa ditemukan di Asia Tenggara daratan atau di Semenanjung Melayu. Prasati Sriwijaya yang ditemukan di wilayah Palembang yaitu Prasasti Kedukan Bukit (682 M), Prasasti Talang Tuo (686 M), Prasasti Telaga Batu dan Boom Baru, serta sekitar 50 prasasti pendek.

Prasasti Kedukan Bukit menceritakan perjalanan suci Dapunta Hyang dengan membawa pasukan sebanyak 20.000 orang melewati daratan dan lautan yang kemudian membuat wanua Sriwijaya. Prasasti Talang Tuo berkisah mengenai pembuatan Taman Srikserta oleh Raja Srijayanasa untuk kemakmuran seluruh rakyat. Sedangkan Prasasti Telaga Batu berkisah mengenai sistem birokrasi kedatuan Sriwijaya.

Museum Balaputra dewa
Prasasti yang berkisah mengenai Kerajaan Sriwijaya

Selain prasasti, terdapat berbagai arca, manik-manik, dan perlengkapan keagamaan. Arca-arca ini menunjukan kepercayaan yang dianut masyarakat pada masa Kerajaan Sriwijaya.

Museum Balaputra Dewa
Arca-arca peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Museum Balaputra Dewa

Saya pun berpindah zaman dari Sriwijaya ke Kesultanan Palembang. Saya mendapati diorama Keraton Kuto Gawang. Diorama tersebut menggambarkan Keraton Kuto Gawang yang dilukiskan Joan van der Len tahun 1659. Keraton menghadap Sungai Musi dengan pintu masuk melalui Sungai Rengas. Keraton ini didirikan oleh Ki Gede Ing Suro pada awal abad ke-17. Pada masa kesultanan, masyarakat menganut agama islam, ditunjukan dengan adanya peninggalan berupa Al-Qur’an.

Diruangan ini juga terdapat naskah-naskah dari bilah-bilah bambu, kulit kayu, tanduk dan lain sebagainya menggunakan aksara Ulu/kaganga. Aksara Ulu diperkirakan sebagai aksara Sumatera tua. Menarik ya?

Koleksi Museum Balaputra dewa
Al-Qur’an pada masa Kesultanan Palembang

Saya mulai capek mengamati satu persatu koleksi Museum Balaputra Dewa. Banyak banget! Tapi karena masih ingin tahu, saya lanjut keruang berikutnya dan mendapati berbagai koleksi ukiran kayu, kain tenun songket, kerajinan logam, dan berbagai anyaman khas dari Sumatera Selatan. Motif  dari ukiran maupun tenun khas Sumatera Selatan memiliki berbagai arti seperti kemakmuran, kejayaan, kekuasaan dan lain sebagainya.

Warna emas mendominasi ukiran, tenun dan berbagai peralatan di Museum Balaputra Dewa ini. Saat membaca flayer yang diberikan petugas saat masuk museum ini saya baru tahu jika Palembang terkenal dengan Pulau Emas (Swarnadwipa). Saya paham sekarang, pantas saja pakaian adat pernikahan mereka juga didominasi warna emas.

Koleksi Museum Balaputra dewa
Berbagai kerajinan tradisional Palembang

Dibagian belakang gedung utama, terdapat Rumah Limas Khas Sumatera Selatan. Rumah Limas atau masyarakat menyebutnya Rumah Rabi dibangun dengan material kayu. Rumah limas yang merupakan koleksi Museum Balaputra Dewa ini awalnya milik warga keturunan Arab (tahun 1983), yaitu Pangeran Syarif Abdurachman Alhabsi. Setelah berganti tangan berkali-kali, tahun 1930, rumah ini dibeli oleh “Gemeetebestuur van Palembang”/ pemerintah kotamadya Palembang. Selain Rumah Limas, Museum Balaputera Dewa juga memiliki koleksi Rumah Ulu khas masyarakat Hulu Sungai Musi yang berusia sekitar 200 tahun.

Rumah Limas di Museum Balaputra dewa
Rumah Limas Khas Palembang, Sumatera Selatan

Karena waktu saya terbatas saat berkunjung ke Museum Balaputera Dewa dan hendak melanjutkan perjalanan ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, tak banyak informasi yang bisa saya serap. Saya pun hanya sanggup memfoto beberapa informasi penting saja. Sepertinya butuh kuliah 3 SKS kalau mau sampai khatam isi museum ini. Museumnya menarik dan informatif, mekipun saat saya berkunjung sedang ada proses renovasi dan penataan ulang, sehingga beberapa koleksi tak dipajang.

Informasi Penting!

Jam Operasional:

  • Selasa-Kamis 08.30-15.00 WIB
  • Jumat 08.30-15.30 WIB
  • Sabtu-Minggu 08.30-13.30 WIB
  • Senin dan Hari Libur Nasional Tutup

Tiket:

  • Dewasa: 2K/orang
  • Anak-anak: 1 K/orang

Lokasi & Transportasi:

  • Lokasi klik tautan ini
  • Kendaraan pribadi/taksi, estimasi waktu 15 menit dari pusat kota

Nantikan cerita jalan-jalan saya di Palembang pada postingan berikutnya 🙂

Mari berkelana, bahagia!

2 comments

  1. masuk ke museum memang seperti masuk ke dimensi lain ya. Suka banget main ke Museum. Bisa belajar banyak dari 1 tempat itu. Ulasan sejarah dan budayanya lengkap banget nih.
    jadi makin tambah pengetahuan dan jadi pengen segera main ke Palembang juga deh..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + 4 =