Gua Buniayu semula bernama Gua Cipicung. Nama ini diambil dari nama kampung di sekitar gua ini berada. Namun, masyarakat setempat mengenalnya dengan Gua Siluman. Secara administratif gua ini termasuk ke dalam kawasan Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten DT II Sukabumi.
Tahun 1982 seorang speleogiwan Indonesia-Dr.R.K.T Kho, bersama beberapa penelusur berkebangsaan Perancis anggota Federasi De Speleleologie (FFS) yaitu: George Robert, Arnoult Seveau, Michael Chassier melakukan pemetaan gua ini. Kemudian sejak tahun 1991, perum perhutani mengelola gua ini sebagai komoditi pariwisata.
Tanggal 13 sampai 15 September 2013, saya berkesempatan untuk mengunjungi tempat ini dalam rangka Eksplorasi Alam (Eksam OWA). Tempatnya cukup jauh, namun semua terbayar dengan pesona yang disajikan Gua Buniayu ini.
Gua ini merupakan gua vertikal sedalam 18 meter. Jadi saya diharuskan menggunakan seutas tali untuk memasukinya dengan teknik Single Rope Technique (SRT). Tentunya dengan menggunakan teknik yang benar dan dalam pengawasan guide yang profesional. Ini kali kedua saya memasuki gua vertikal, setelah 5 tahun silam melakukannya di Goa Gunung Kapur, Ciampea. Rasanya deg-degan.
Setelah sampai ke dasar gua, tiba-tiba rasa sunyi menyelinap. Kami bak para penambang menyusuri gua untuk mencari harta yang tersembunyi, yakni kekayaan alam Indonesia yang berharga di Mata Dunia. Cahaya kekuning-kuningan menerangi jalan kami. Bagi saya ini mengagumkan.
Mata ini mulai terbelalak menyaksikan indahnya ornamen-ornamen yang berada di gua ini. Lebih indah dari 3 gua yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Mulai dari stalactite dan stalagmite dengan berbagai bentuk dan ukuran hingga Micro Gourdam dan Macro Gourdam yang berilauan bak kristal.
Sekedar pengetahuan, Stalactite terbentuk akibat pelarutan batuan berkapur oleh cairan yang sedikit asam dan terletak di bagian atas gua menggantung seperti es. Sedangkan Stalagmite terbentuk dari tetesan air dari atas gua (tepatnya yang menetes dari stalactite) yang kemudian menyisakan endapan kapur setelah penguapan. Biasanya mereka tumbuh perpasangan.
Ornamen lain yang ada di gua ini adalah Canopy dan Draperies. Canopy merupakan ornamen yang tumbuh di dinding goa yang menyerupai tudung payung atau jamur. Hal ini terbentuk karena adanya aliran air. Sedangkan Draperies bentuknya seperti gordyn dan bagian bawah seperti gigi.
Hampir sepanjang gua, hanya sedikit ditemui stalactite dan stalagmite yang sepasang. Tau kenapa? temukan jawabannya disambungan tulisan ini..hehe
Selain ornamen-ornamen yang indah nan menawan, ada bentuk lain dari batuan kapur di gua ini, yakni Micro Gourdam dan Micro Gourdam yang berbentuk petak-petak sawah. Ada aliran air di atasnya yang membawa larutan kalsium kalsit sehingga membuat ornamen ini berkilauan. Shine bright like a diamond kalau kata Rihanna..hehe
Indah banget kan ornamen-ornamen guanya. Tapi ibarat mendaki gunung, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Tak ada jalan yang mulus ke Taman nasional.. *Ga nyambung.
Intinya ga ada yang gratis buat bisa menikmati ini semua. Butuh pengorbanan dengan melewati jalur-jalur yang tidak bisa dikatakan mudah…Air, jurang dan lumpur siap menghadang..
Cerita berikutnya ya bersambung disini
Cheers,
Nunuz
3 comments
Saya juga pernah ke sini, mantab ini Mba……. ……di dalam zona gelap, antara mata terbuka dan mata tertutup benar-benar tidak ada perbedaan