Welcome to MRT Jakarta

gue harus coba naik MRT (Mass Rapid Transit) nih pas nanti pulang.” guman saya saat menghitung waktu yang semakin dekat dengan tanggal merah.

Hari libur pun tiba, saya memutuskan untuk pulang ke Banten setelah berbulan-bulan jadi anak rantau di Kota Kembang. Kali ini, saya merindukan pulang, merindukan orang tua, merindukan berbincang banyak hal dengan mereka. Rindu yang tak biasa. Mengingat dulu hampir setiap tanggal merah dan libur panjang, saya sering memilih untuk ngebolang.

Ah, semakin dewasa, waktu dengan keluarga semakin berharga.”

Agenda liburan saya hanya mengikuti pemilu, menemani mamah belanja keperluan toko, berbincang banyak hal, membereskan berbagai hal yang tertunda sembari tentunya mencoba transportasi terkini di Ibu Kota Jakarta. Kota yang setahun belakangan memberikan saya banyak pengalaman berharga.

“Da, gue ke Jakarta nih, sekalian ada urusan sebelum besok balik ke Bandung. Temenin nyoba MRT yuk!” ajak saya pada sepupu yang kebetulan sedang berkuliah di Jakarta.

Menunggulah digaris kuning, bukan hijau 🙂

Stasiun Bundaran HI

“Oke, ketemu langsung di Stasiun Bundara HI ya.” tanda dia menyetujui ajakan saya

Saya tiba di Stasiun Bundaran HI dengan wajah terheran-heran “Stasiunnya yang mana? pintunya banyak!”

Peluh keringat membasahi kening dan sekujur tubuh. Setelah beberapa kali telepon dan share lokasi, terkuaklah bahwa kami berada pada posisi berseberangan. Ternyata stasiun di Bundaran HI ini memiliki banyak pintu masuk. Kalau tidak salah ada sekitar lebih dari lima pintu di bahu kanan kiri jalan. Bahkan stasiun ini langsung terintegrasi dengan Busway.

“Oke, kita ketemu di bawah, di dalam stasiun.”

Dengan perasaan ngeri-ngeri sedap saya masuk ke dalam stasiun yang berada di dalam tanah. Maafkan, saya norak dan selalu merasa ngeri dengan bawah tanah. Padahal kalau diajakin caving juga demen. 🙂

Suasana di dalam MRT

Setelah antre cukup lama, akhirnya tiket kami dapatkan. Tibalah kami menunggu MRT itu tiba. Ada empat jadwal keberangkatan yang tertulis jelas di layar, jadi tinggal pilih mau naik yang jam berapa.

Saya menanti MRT tiba di depan pintu otomatis, pada garis kuning di kanan dan kiri lantainya. Tak lama MRT tiba, kami segera naik dan duduk di kursi berwarna biru. Nyaman, itu yang kali pertama saya rasakan.

Hari itu, MRT cukup ramai oleh orang-orang seperti saya. Mencoba transportasi masa teranyar di Jakarta. Transportasi masa yang diharapkan dapat memfasilitasi warganya untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain secara aman, nyaman, cepat, dan bebas macet.

Perbedaan MRT dengan KRL

MRT yang baru diresmikan Maret 2019 ini, meskipun sama-sama kereta, tentunya memiliki perbedaan dengan KRL yang sudah kita kenal sebelumnya. Dari segi kecepatan, MRT jauh lebih cepat dari KRL (110 km/jam). Jadi, bisa hemat waktu banyak dengan menggunakan moda transportasi ini.

Tiket MRT vs KRL

Selain itu, lintasannya MRT itu bawah tanah dan layang. Kemudian dengan jumlah gerbong yang lebih sedikit, MRT punya daya tampung yang tak jauh berbeda dengan KRL. Kalau yang saya lihat sih ya, kursinya sedikit berbeda dengan KRL. Kursi MRT tak memiliki bantalan empuk.

Nah, penasaran kan jadi pengen coba?

Stasiun Lebak Bulus

Cara Membeli Tiket MRT

Untuk mendapatkan tiket, kamu bisa membelinya secara manual di loket pembelian atau di mesin otomatis. Berikut ini cara pembeliannya:

  • Loket Tiket Manual : Antre di depan loket, sebutkan tujuan ke petugas dan bayar sesuai tarif.
  • Mesin Otomatis: Antre di depan mesin, pilih membeli tiket, pilih tujuan, masukan uang pada mesin. Kemudian kartu, struk, dan uang kembalian akan keluar dari mesin.
Cara membeli tiket

Untuk tiket, kemarin sih saya membayar 7K untuk tarif Stasiun Bundara HI ke Lebak Bulus, dan biaya jaminan kartu single trip 15K per kartu. Uang jaminan tersebut akan dikembalikan ketika mengembalikan kartu.

Itu dia pengalaman saya naik MRT di Jakarta. Happy banget, akhirnya pembangunan ini berbuahkan hasil. Semoga kita bisa menjaganya bersama ya, tertib dan ga buang sampah sembarangan. Karena di stasiun sudah disediakan tiga tipe tong sampah untuk jenis sampah yang berbeda.

Semoga segera ada MRT atau LRT ke Bandung deh ya. Jadi mobilitas saya akan jauh lebih mudah. Tolong diaminkan. Aamiin

Mari berkelana, bahagia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *